Cinta Absensi

Ada orang yang kalau jauh dari benda atau pribadi yang disukainya jadi nglokro, tak bersemangat, mati segan hidup tak mau (atau hidup segan mati tak mau?). Tetapi ada juga orang yang ketika benda atau pribadi yang disukainya itu absen, ia malah penuh vitalitas dan semakin berkembang. Orang yang pertama mungkin jatuh cinta (statusnya: infatuation) dan terbelenggu oleh kelekatan (attachment). Orang kedua adalah ia yang terserang ‘penyakit’ yang disebut Cinta. Eaaaaa…. cinta lagi, cinta lagi. Penyair Austria, Rilke, konon memberi endorsement kepada kelompok orang kedua ini: I wish you the joy of loving those things whose absence makes us live and makes us walk.

Orang kaya yang dinarasikan dalam teks hari ini bukan orang jahat. Ia sungguh ingin mencari hidup kekal dan konsisten dengan pencariannya. Ia menaati seluruh perintah Allah yang tertuang dalam Kitab-Nya, tetapi ia toh tetap merasa galau dan akhirnya bertanyalah ia kepada Yesus. Bukan tambah tenang hatinya, malah semakin galau. Kenafa?
Karena ia termasuk dalam bilangan orang yang pertama tadi, yang disposisinya adalah infatuation: sedang kasmaran, sedang tergila-gila dengan yang namanya duit, kenyamanan, jabatan, dan kroni-kroninya (meskipun dibungkus dengan kata-kata kebahagiaan, hidup kekal, cinta, dan sebagainya). Akibatnya, kalau objeknya itu absen dari jangkauannya, habislah dia! Tak mengherankan bahwa saran Yesus membuat hatinya ancur berkeping-keping jadinya. Wes, cucok dengan lirik lagu Layu Sebelum Berkembang!

Bacaan pertama memaparkan narasi Petrus yang menyinggung absennya Yudas, si pengkhianat, yang tentu saja mengecewakan kelompok Yesus itu. Akan tetapi, alih-alih memperpanjang litani ratapan, para murid ini menuruti gelora cinta membara mereka kepada sosok Kristus dan dari situ mereka melirik Kitab Suci yang menginspirasi mereka untuk mencari pengganti dan memungkinkan mereka move on. Ini berlaku bukan hanya untuk dinamika kelompok, melainkan juga dinamika pribadi yang memang mengenyam cinta yang sebenarnya: komitmen yang membebaskan orang justru untuk mewarnai komitmen itu.

Betul kata Rilke, kalau orang hidup dalam cinta yang sesungguhnya, absennya seseorang, bahkan kematiannya, justru semakin mengokohkan dirinya untuk menghidupi Roh yang dihidupi oleh pribadi yang dicintainya; pengalaman itu menempanya untuk lebih mengarahkan hidup keluar dari dirinya daripada hidup yang terus menerus hendak memangsa apa saja di luar dirinya. Hidup yang seperti itu jelaslah membahagiakan. Gak percaya? Tunggu tanggal mainnya…

Ya Allah, aku tahu perintah-perintah-Mu tetapi Engkau tahu seluruh kontradiksi dalam hidupku, yang membuatku susah bangkit. Janganlah Engkau mengabaikan aku dalam kelemahanku. Amin.


SENIN BIASA VIII C/2
23 Mei 2016

1Ptr 1,3-9
Mrk 10,17-27

Senin Biasa VIII B/1 Tahun 2015: Lebay sama Hukum
Senin Biasa VIII A/2 Tahun 2014: Go Out Of The Box

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s