Susahnya PDKT

Tak perlu repot dengan orang yang memproklamirkan diri sebagai ateis, atau yang tak peduli dengan eksistensi Allah, atau yang secara eksplisit memilih tak percaya kepada Allah, atau yang terus-terusan menantang bukti adanya Allah. Mereka ini tidak sedang menyerang Tuhan atau pengikutnya. Mereka hanya sedang mengganti Allah dengan idola mereka sendiri: hobi, duit, kuasa, kesenangan diri, ideologi, dan sejenisnya; dan itu normal alias wajar. Kalau orang tak menerima bahwa Allahlah yang paling penting dalam hidup ini, tentu ia mesti menyediakan hal lain yang dianggapnya paling penting dalam hidup ini. Pun kalau dia mengatakan dalam hidup ini gak ada yang penting, dia menyatakan bahwa anggapannya itu sendiri tidak penting. Jadi, kalau “dalam hidup ini gak ada yang penting” adalah anggapan yang gak penting, berarti…. silakan simpulkan sendiri.

Hari Raya Tritunggal senantiasa mengingatkan umat Kristen untuk mencoba menemukan keunikannya. Saya duga, kebanyakan orang Kristen akan mengatakan bahwa kekhasan agama Kristen adalah ajaran cinta kasih, tetapi itu jelas tidak benar. Cinta kasih adalah ajaran moral yang tentu juga diajarkan oleh agama manapun: Buddha, Islam, Yahudi, bahkan gerakan New Age memakainya sebagai daya tarik. Itu juga mengapa dikatakan bahwa orang tak perlu beragama kalau maunya hanya hidup bermoral baik. Percayalah, banyak orang baik yang tak merasa perlu beragama; wong agama itu ya malah bikin repot, bahkan bisa jadi alasan perang!

Kekhasan agama (dalam definisi terlonggarnya, sehingga aliran kepercayaan juga bisa dimasukkan di sini), saya kira, terletak pada paham Allah yang mereka tawarkan. Paham Allah inilah yang kemudian jadi patokan untuk memahami ‘kemanusiaan’ (yang nantinya bermuara pada moralitas macam apa yang hendak dibangun). Maka, tak cukuplah orang cuma mengklaim percaya kepada Allah tetapi tak bisa mengatakan Allah macam apa yang dipercayainya. Yang paling dasar, orang perlu memahami apakah Allah yang dipercayainya ini adalah Allah yang merupakan jawaban pertanyaan ‘apa’ atau ‘siapa’.

Kebanyakan orang mendekati Allah dengan pertanyaan ‘apa itu Allah’ sehingga mereka mencari aneka representasi Allah di dunia ini: api, air, matahari, galaksi, dan ujung-ujungnya adalah panteisme alias semuanya ini adalah Allah. Dari situ muncul paham politeistik dan Yahudi, Kristen, Islam tidak menyokongnya. Agama monoteis ini meyakini Allah sebagai sosok pribadi. Islam melihat sosok Allah yang absolut, transenden, tunggal, tetapi tidak ‘turun’ dari tahta-Nya sana. Sebaliknya, Yahudi melihat sosok Allah yang begitu akrab dengan umat Yahudi (ingat kisah perjumpaan Musa dan Allah, loh batu, tiang awan yang menuntun bangsa Israel keluar dari Mesir dan berperang melawan aneka musuh).

Tentu ada risiko Allah yang akrab dengan manusia ini: Ia jadi eksklusif, memilih bangsa Israel doang. Yesus membongkar paham itu dengan sebutan ‘Bapa’-nya: semua saja diundang untuk jadi anak-anak Allah dan Yesus ini jadi prototipe bagi anak-anak Allah itu dengan lahir dari Roh. Di kayu salib dia serahkan Rohnya kepada Allah, dan Roh itulah rupanya yang jadi medium komunikasi iman Yesus dengan Allah dan sesamanya. 

Ya Allah, mohon rahmat keakraban dengan Roh-Mu supaya kami dapat terlibat dalam relasi cinta-Mu. Amin.


HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS C/2
Minggu, 22 Mei 2016

Ams 8,22-31
Rm 5,1-5
Yoh 16,12-15

Posting Hari Raya Tritunggal Mahakudus B/1 Tahun 2015: Manusia Tritunggal
Posting Hari Raya Tritunggal Mahakudus A/2 Tahun 2014: Allah 3D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s