Abis Nangis Ketawa

Di balik toleransi tinggi terhadap kesalahan anak-anak, ada bahaya bahwa orang dewasa menganggap anak-anak itu tak perlu diperhitungkan. “Namanya juga anak-anak, mereka belum tahu mana yang baik dan mana yang buruk; mereka belum mengenyam pendidikan; mereka tahunya cuma main dan main; maka mereka harus dididik.” Mungkin begitulah orang beranggapan.

Yesus itu sableng juga ya; dia tak begitu saja menerima anggapan umum. Pada masa hidupnya, baik dalam kultur Yunani, Yahudi, maupun Latin, anak-anak dipandang sebagai sosok yang ‘belum jadi orang’. Anggapan ini juga kiranya masih hidup di sini, yang tampak dalam ungkapan harapan ke depan supaya anak-anak nantinya ‘jadi orang’ [lha apa ya sekarang itu mereka anak munyuk po piye]. Selagi masih dianggap anak-anak, sosok ‘setengah orang’ ini ya diperlakukan sebagai properti orang tuanya. Itu mengapa sebagian orang merasa punya hak untuk memperjualbelikan anak-anak atau memanfaatkan anak untuk mencari nafkah.

Kesablengan Yesus terletak pada undangannya untuk bukan saja menerima anak-anak sebagai sosok pribadi, melainkan juga menjadikan perilaku mereka sebagai model kemuridan! Perilaku yang mana? Mosok perilaku anak-anak malah jadi model untuk mengikuti Yesus, menjadi umat beriman? 

Mari lihat pokok persoalannya kembali: anak-anak dipandang sebelah mata, dan Yesus nan sableng itu menggugat pandangan itu. Artinya, menurut Yesus, orang dewasa sebaiknya tidak memandang mereka sebelah mata semata-mata karena posisi lemah mereka (seperti para janda dan kaum miskin), kecuali kalau orang dewasa itu memang hanya punya mata sebelah. Poinnya masih sejalan dengan insight hari-hari ini: mohon supaya tidak membuat eksklusi, membuat pengucilan, diskriminasi, dan sejenisnya. Ini berlaku bukan hanya terhadap substansinya, melainkan juga metode komunikasinya: baik orang miskin maupun orang kaya, baik anak-anak maupun orang dewasa, semuanya perlu tunduk pada Roh yang menuntun orang untuk membangun hidup yang bermartabat (itu mengapa diperlukan dialog).

Anak-anak mendapat perhatian khusus Yesus karena dari mereka orang dewasa bisa membuka wawasan dalam memandang dunia. Mari lihat anak-anak yang mampu tertawa segera setelah menangis atau bahkan mereka yang tangisannya sulit dibedakan dari tertawa. Coba bandingkan saja dengan orang dewasa yang sudah kenyang asam garam dan punya daya untuk membuat aneka analisis objektif. Tangisan mereka tak kunjung henti dan malah mengambil rupa atau bentuk lain karena begitu susah menerima kenyataan pahit. Susah bagi mereka untuk segera setelah menangis njuk ketawa dan kalau itu menjadi mudah, bisa jadi karena mereka lulus ujian masuk rumah sakit jiwa!

Menangis-tertawa ala anak-anak biasanya terjadi bukan karena mereka sinting, melainkan karena cara memandang hidup yang tak dibebani oleh aneka macam kelekatan. Begitulah semestinya umat beriman menjalani hidup sehari-hari yang digantungkan pada Roh yang menuntunnya kepada Tuhan.

Ya Allah, semoga kami semakin bebas dari aneka ketakutan dan kekhawatiran hidup dan sungguh pasrah dalam jerih payah usaha kami sehari-hari. Amin.


SABTU BIASA VII C/2
21 Mei 2016

Yak 5,13-20
Mrk 10,13-16

Posting Tahun 2014: Dio, Dammi La Mano

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s