Coba Suspensi Ah…

Kapan idealnya orang married? Ketika pihak yang married itu sudah keluar dari orientasi individualis dengan paradigma ‘aku-kamu’ yang ditransformasi sebagai paradigma ‘kami-kita’. Tentu saja dunia kita ini bukan dunia ideal; banyak orang yang sudah married bahkan selama puluhan tahun dan paradigmanya masih ‘aku-kamu’ dan sepanjang jalan orang-orang yang married ini cuma ribut mempertengkarkan siapa yang lebih benar atau lebih baik di antara orang yang married itu. Ancur ya ancur: perkawinan tak lagi jadi berkat bagi pasangan yang menikah, tetapi jadi kutuk bahkan juga bagi masyarakat.

Problem kekerasan dalam masyarakat, pun yang bersifat seksual, tak terlepas dari problem institusi perkawinan ini. Kemarahan masyarakat yang menyasar pada pelaku kekerasan seksual sebenarnya hanyalah kemarahan terhadap simptom, tetapi ketika disodorkan akar permasalahan, ironisnya, kemarahan itu tidak menambah energi untuk suatu transformasi diri, tetapi justru memperbesar toleransi-diri untuk mencari kambing hitam di luar dirinya dan tak pernah maujud sebagai upaya untuk mengubah diri. Silakan amati mereka yang married karena korban conditioning kultural: kawin ya kawin aja, gak usah sok idealis memikirkan kontribusi keluarga bagi perkembangan masyarakat.

Pola pikir itu menjauhkan orang yang married dari keterlibatan dalam masyarakat: masyarakatlah yang harus memberi kontribusi padaku, pendidikan ya tanggung jawab sekolah, struktur adil ya wilayahnya negara, dan kepada orang tua cuma disisakan job dasariah sebagai pabrik anak! Astaga, mau apa dunia ini kalau institusi perkawinan tak menaruh nilai kehidupan sebagai nilai dasar hidup berkeluarga mereka?

Saya tak sampai pada kesimpulan bahwa orang yang masih mau menjalin relasi pertemanan dengan mantan suami adalah sosok psikopat, tetapi saya takkan pernah melupakan bahwa cinta adalah soal komitmen dan menganggap komitmen rusak sebagai sesuatu yang wajar dan tak perlu mengganggu relasi adalah anggapan naif. A dan B kawin beranak C, ada masalah antara A dan B, lantas B menikah dengan D dan beranaklah E, dan B maunya berelasi biasa dengan A dan C. Diam-diam relasi kekerasan dipromosikan dalam relasi seperti itu dan akan direkam baik-baik oleh C maupun E: cerai? Biasa, normal, wajar! Jadi, bikin komitmen lalu melanggarnya, itu juga wajar-wajar aja!

Memang, komunitas ideal tak ada. Takkan kucari dunia nan sempurna karena bukan dunia macam itu juga yang jadi sumber kegembiraan, akan tetapi, akan selalu kucari dalam setiap ciptaan unsur-unsur yang bisa semakin menempatkan hidup bersama dalam rel menuju Allah (eaaa verso Dio lagi) sendiri.

Beberapa waktu lalu di komunitas intern Gereja Katolik cukup ramai dihembuskan kasus ‘suspensi’ seorang imam dan, terlepas dari persoalan suspensinya sendiri, umat beriman perlu bermawas diri: saat orang menertawakan dan bahkan mengucilkan saudaranya yang (dianggapnya) berdosa, barangkali saat itulah terjadi penyakit yang meruntuhkan bangunan Gereja: tak ada lagi belas kasih! Apa jadinya mesin tanpa oli, begitu pula jadinya Gereja tanpa belas kasih. Oli dalam hidup bersama tidak dibuat dengan disposisi merasa benar sendiri dan mengurung orang dalam kebenaran individualisme, tetapi justru dengan dialog dewasa yang menantang masing-masing orang untuk mentransformasi dirinya.

Ya Allah, semoga kami semakin sanggup melepaskan diri dari jerat individualisme. Amin.


JUMAT BIASA VII C/2
20 Mei 2016

Yak 5,9-12
Mrk 10,1-12

Posting Tahun 2014: Being Patient, Being A Patient

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s