Untung Miskin

Kemarin lusa saya menemukan video tentang perjuangan hidup seorang kepala keluarga yang jobless dan mencari cara untuk menjual kostum jagoan dengan mengendarai motor berkeliling ibukota. Tentu ini cuma sebagian kecil dari pergumulan hidup orang mengais rezeki di metropolitan: hidup ini keras, Jendral!
Fakta kemiskinan bukan fakta temporer. Ini senantiasa dijumpai di mana-mana sebagai bagian dari masyarakat global, entah sistem ekonomi manapun yang diadopsi. Orang diperlakukan sebagai objek yang terukur dengan hasil, prestasi, pasar, modal, investasi, dan sebagainya. Ini juga bisa terdeteksi dalam dunia pendidikan ketika anak-anak menyerap benih materialisme: lo kagak bisa kasih gue duit, gak usah kasih nasihat deh! Orang teralienasi dari martabatnya dan menjadi komoditas: habis manis sepah dibuang.

Kalau begitu, ini bukan persoalan sentimental belaka (sebagaimana orang bicara cinta sejati bukan soal sentimental belaka). Kepedulian terhadap fakta kemiskinan bukan soal merasa kasihan belaka terhadap orang-orang terpinggirkan. Concern terhadap persoalan kemiskinan tidak ditunjukkan dengan rasa kasihan, tetapi dengan upaya untuk membongkar struktur atau mekanisme yang membuat orang lain tersingkirkan. Di mana ada struktur atau mekanisme yang diskriminatif itu? Tak lain: dalam diri setiap orang.

Kalau struktur yang menciptakan kemiskinan itu tak dibongkar, orang akan jadi sentimental mengundang masuk orang-orang miskin ke istananya atau mengadakan bakti sosial, makan siang amal, dan besoknya yang miskin ya kembali ke rutinitas biasanya untuk mengais rezeki dan orang kaya masuk lagi dalam kenyamanan biasanya.
Loh, Romo ini maunya gimana: yang kaya jadi miskin dan yang miskin jadi kaya, gitu?
Haha… ya jelas tidak, itu tetap melanggengkan struktur dong.
Lha njuk gimana, mosok menyamakan pendapatan semua orang?!
Haiya…itu pun tak mungkin, kalaupun mungkin, belum tentu adil.

Pembongkaran struktur dalam diri orang mengandaikan perubahan paradigma: dari rasa kasihan ke tindakan bela rasa, dari konsep membantu orang miskin kepada tindakan berbagi, dari tindak memberi sesuatu kepada orang miskin ke immersion dalam dunia orang miskin. Artinya, orang mengubah paradigma tentang orang lain sebagai ‘pesaing’ menjadi sesama sebagai ‘keluarga’. Dalam perspektif Kristiani, pembongkaran struktur itu adalah realisasi akan keyakinan bahwa Allah menjadi Bapa bagi semua orang, tanpa pengecualian.

Maka, dalam terang iman, perjumpaan dengan orang miskin tak pernah bisa jadi alasan untuk bersyukur dengan ungkapan “Tuhan, syukur saya tidak seperti gelandangan itu” atau “Terima kasih, Engkau tidak membiarkan aku jadi kere” dan sejenisnya. Perjumpaan dengan orang miskin menantang umat beriman untuk mempersoalkan paradigma hidupnya yang diskriminatif, yang eksklusif, yang menciptakan struktur kemiskinan. Ia ditantang oleh fakta kemiskinan untuk merealisasikan bahwa Allah memang adalah Bapa bagi semua orang. 

Ya Tuhan, semoga kami jeli menangkap keyakinan-keyakinan diri yang menjerumuskan kami pada eksklusivisme dan berani mengubahnya. Amin.


KAMIS BIASA VII C/2
19 Mei 2016

Yak 5,1-6
Mrk 9,41-50

Posting Tahun 2014: Living Sacrifice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s