Kebanyakan Monopoli

Ada seorang raja yang pernah mengatakan pepatah kurang lebih begini bunyinya: hati gembira adalah obat manjur, roh yang ancur menghisap tulang hingga kering (Ams 17,22). Hati dalam blog ini tak bisa direduksi sebagai perasaan belaka. Hati gembira maksudnya adalah paradigma yang sehat dan menyejukkan tentang kehidupan. Paradigma nan sehat menyejukkan ini mengantar orang pada penyembuhan yang mulai dari dalam dan bisa jadi memengaruhi fisik. Roh yang ancur mengacu pada pribadi yang depresif, yang paradigma hidupnya diacak-acak oleh situasi di luar dirinya: orang lain yang lebih populer, sukses, mapan, disukai, kaya, happy, beruntung, dan sebagainya. Orang yang rohnya ancur begini lupa bahwa compare bisa berujung despair.

Bacaan Injil secara implisit mengundang pengikut Yesus (yang tak cuma berarti pemeluk agama tertentu!) untuk menyehatkan paradigma hidupnya. Yohanes melarang orang lain yang tak terbilang dalam hitungan murid-murid Yesus mengusir roh jahat dengan membawa-bawa nama Yesus. Pikirnya, kalau mau mengusir roh jahat dengan menyebut nama Yesus ya harusnya orang itu mengikuti Yesus dong! Jangan oportunis gitu dong, mau enaknya aja: gak mau mengikuti Yesus tapi bikin mukjizat dengan mencatut nama Yesus!

Yesus mengoreksi gagasan Yohanes yang sangat miopik alias berkarakter rabun jauh: tak bisa melihat jauh dan jangkauan pandangannya makin sempit. Yesus melarang Yohanes, yang melarang orang lain membuat mukjizat atas nama Yesus. Landasan pemikirannya sederhana: dia memakai nama Yesus untuk kebaikan, kenapa mesti dilarang?
Lah, kan bukan kelompok pengikut kita, Sus!
Njuk apa bedanya kalau mukjizatnya memang terjadi? Siapa yang sebetulnya membuat mukjizat? Orang yang memakai nama Yesus itu, atau ‘nama Yesus’-nya sendiri? Pikir Yoh, kalau A menyembuhkan orang sakit dengan nama Yesus dan B, C, dan D membuat mukjizat dengan nama Yesus, kuasa penyembuhan itu datang dari A atau dari mana?

Yesus tidak sedang bicara soal toleransi antarumat beragama; ini jauh lebih fundamental daripada soal toleransi (yang kerap diselewengkan sebagai solidaritas semu atau malah mungkin ‘perang dingin’). Mereka yang mengerjakan mukjizat sejati, yang membebaskan manusia secara utuh, melakukannya ‘dalam nama’ Yesus, yaitu Roh sendiri, yang tak bisa dikurung dalam kotak atau tembok jenis apapun. Tapi ya begitulah, murid terdekat Yesus pun tidak otomatis mampu memilah mana substansi dan mana aksiden [halah… istilah Abad Pertengahan, hahaha], mana yang pokok dan mana asesoris. Itu mengapa tak sedikit orang tergila-gila pada Yesus historis, tetapi susah mengerti Roh yang bekerja di belakang layar. Itu mengapa sebagian orang Kristen menafsirkan ‘Yesus satu-satunya jalan’ dengan sangat reduktif: agama Kristen sebagai satu-satunya jalan! (Malah kojur toh menganggap Yesus Kristus gak bisa kerja di luar agama Kristen!)

Jadi, paradigma hidup yang sehat dan menggembirakan kiranya adalah paradigma inklusif karena keyakinan bahwa pelaku mukjizat, pelaku kebenaran itu adalah Roh Kudus sendiri. Orang A, B, C, D akhirnya ‘cuma’ semacam saluran Roh tadi, sebagaimana diri kita sendiri. Jadi, kenapa mesti sewot kalau orang lain jadi saluran? Jangan-jangan, itu karena sejak kecil dibiasakan main monopoli.

Ya Allah, semoga kami semakin melihat keragaman cara-Mu mewahyukan Diri. Amin.


RABU BIASA VII C/2
17 Mei 2016

Yak 4,13-17
Mrk 9,38-40

Posting Tahun 2014: Insha’Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s