Cinta via Luka

Menurut kamus pengetahuan umum, perang apa di dunia ini yang durasinya paling lama? Perang Dunia II? Indonesia-Belanda 350 tahun? Perang Romawi-Persia 721 tahun? Reconquista 770 tahun? Saya yakin, tak ada perang yang lebih lama daripada perang batin!

Bacaan pertama hari ini menggarisbawahi keyakinan saya: Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu… salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.

Falsafah “jagad kecil jagad besar” orang Jawa kiranya juga menyokong keyakinan itu: apa yang ada dalam jagad gede termaktub dalam jagad cilik, yaitu manusia. Tak heran, aneka perang di sana-sini adalah representasi perang jagad cilik alias perang batin. Tentu saja perang ini terus berlangsung selama di dunia ini masih ada jagad cilik.

Bacaan Injil menyodorkan contoh bagaimana perang batin itu juga (atau justru) terjadi pada mereka yang mengikuti Yesus dengan menampilkan ironi. Yesus omong soal penderitaan dan kematiannya. Para murid omong soal kemegahan, kemenangan, kekuasaan terbesar. Ini jelas gak level, tetapi toh Yesus ‘menurunkan levelnya’ untuk mengapresiasi passion para muridnya. Yesus tidak menyangkal bahwa mereka mesti mencari yang terbesar, terbaik, terbagus, terhebat. Jangan setengah-setengah! Pengikut Yesus mesti total dalam upaya mencari yang terbaik, tetapi problem perang batin takkan pernah selesai: dari waktu ke waktu mereka mesti menguji apakah kriteria atau tolok ukurnya itu sungguh pelayanan untuk bonum commune atau semata pemuliaan diri, kelompok, partai, agama.

Hanya dalam kerendahan hati untuk menguji diri itu orang akan menemukan kedamaian sejati: perang batin senantiasa berkecamuk ketika pemuliaan diri dilucuti. Terluka, sakit, iya; tetapi efeknya adalah inner beauty yang menguak cinta sesungguhnya. Kalau tak ada luka atau duka malah pantas dipertanyakan bahkan ditegaskan bahwa di situ cuma ada pemuliaan diri, kelompok, partai, atau agama. Kenapa? Gak ada yang mengusik, adanya cuma asik-asik dan cinta sejati bukan cuma asik-asik.

Ya Allah, berilah kami kejujuran untuk menguji diri. Amin.


SELASA BIASA VII C/2
17 Mei 2016

Yak 4,1-10
Mrk 9,30-37

Posting Tahun 2014: JOY, Jesus Others Yourselves

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s