Sukak-sukak Gueh!

Orang yang menunggu momen untuk berdoa sampai bencana menimpa biasanya tak punya kebebasan eksistensial. Orang ini merasa diri bebas karena memang terserah dia sih mau berdoa kapan: sebelum bencana kek, pada saat bencana, maupun setelah bencana. Bahkan mungkin ia berpikir,”Terserah orang kan mau percaya atau enggak, mau beriman atau enggak, mau pilih agama apa?” Pokoknya, “Sukak2 gue, kan?” dan dengan modal itu orang merasa diri bebas, tetapi itu sama sekali bukan kebebasan eksistensial.

Kebebasan eksistensial tidak terletak pada prinsip suka-suka gue yang justru berpotensi besar mengasingkan orang dari dirinya sendiri alias tak jujur pada dirinya sendiri, tak mengenal dirinya sendiri, tak autentik, tidak gue banget. Ironisnya, orang yang tak punya kebebasan eksistensial justru mengklaim diri tahu mana yang gue banget dan mana yang bukan. Padahal, kalau ditelisik secara jujur, jebulnya yang dia sebut gue banget itu adalah yang cocok dengan kesenangannya belaka: ia bertindak atas dasar kategori like-dislike, bukan core values yang menentukan keutuhan dirinya. Kalau suka ya ambil, gak suka ya buang aja ke laut.

Mari lihat orang yang menunggu kecentok atau bencana hidup sebelum ia (mau) berdoa. Ia mengira bahwa ini soal kebebasan: setiap orang bebas dia mau berdoa kapan saja. Akan tetapi, de facto dia tak berdoa sebelum bencana terjadi, dan setelah bencana terjadi barulah dia berdoa. Artinya, bencana menjadi faktor luar yang menentukan orang ini untuk berdoa. Dengan kata lain, ia berdoa bukan karena dorongan dari dalam diri, melainkan karena bencana memaksanya untuk berdoa (dorongan dari luar).

Loh, emang kenapa kalau orang bertindak karena dorongan dari luar semata (karena teman, orang tua, boss, dll)? Memangnya kenapa kalau orang gak otonom? Romo punya masalah dengan orang-orang yang gak punya kebebasan eksistensial?

Saya sih gak punya masalah: ini hidup hidup elo.
Nah, Romo egois dengan prinsip elu-elu gue-gue!
Bukan egois, brow! Ini kenyataan bahwa setiap orang mengambil tanggung jawab atas hidupnya sendiri, dia gak bisa menyalahkan situasi eksternal atas kehancuran hidupnya. Kalau orang tak punya kebebasan eksistensial, ia akan menyalahkan apa saja di luar dirinya atas kegelapan hidupnya! Maka, saya cuma menunjukkan jalan, itulah maksud blog versodio: jalan supaya orang menemukan identitas dirinya yang sejati, yang terkoyak oleh aneka macam ideologi.

Masyarakat (baca: orang-orang) yang mengeksklusikan Tuhan (bukan soal beragama atau tidak!) takkan menemukan kesejatian hidup. Hanya dalam Tuhan orang menemukan identitas dan jalan kedamaian. Yesus adalah salah satu pribadi yang hendak mengembalikan martabat orang, membawanya kembali kepada Allah yang disebutnya Bapa. Jalan ini memungkinkan orang mengenali apa yang memisahkannya dari sesama, punya damai dan komunikasi-diri. Tanpa jalan macam ini, orang hanya mau mengafirmasi diri untuk jadi lebih dari (atau sekurang-kurangnya sama dengan) orang lain: perang, iri, benci, fitnah, rasa mau mati dan sejenisnya.

Membiarkan Allah menggapai dan memeluk orang perlahan-lahan akan meluluhkan aneka dorongan emosionalnya lantaran kipas setan untuk harta, kuasa, dan ‘wanita’ (mohon maaf para feminis, ‘wanita’ perlu diganti apa ya?). Itulah problemnya: membiarkan Allah hidup dalam diri, memperluas wawasan hati dan budi.

Tuhan, mohon rahmat keterbukaan hati dan budi. Amin.


SENIN BIASA VII C/2
16 Mei 2016

Yak 3,13-18
Mrk 9,14-29

Posting Tahun 2014: Prayer, Recognition of God’s Way

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s