Prayer: Recognition of God’s Way

Dalam dunia pewayangan ada kisah tokoh-tokoh heroik yang menarik diri dari keramaian, bertapa, berdoa, mengatasi aneka godaan, sebelum akhirnya mereka keluar dari tempat pertapaan dan mengalahkan macam-macam musuh. Sosok heroik seperti ini digambarkan memiliki hikmat dan kekuatan dari yang Ilahi. Barangkali karena kisah itu merupakan cerita dari dunia pewayangan, orang tidak menerimanya sebagai kisah nyata, seolah-olah tidak sadar bahwa dalam sejarah Gereja pun hidup kisah seperti itu. Yesus sendiri memberi model hidup dalam Roh. Setelah berdoa dan berpuasa, ia memiliki hikmat dari Allah dan juga kemampuan untuk mengusir aneka roh jahat, dalam arti literal.

Kekuatan itu juga diberikan oleh Yesus kepada para murid-Nya, tetapi ternyata mereka gagal menggunakannya. Bayangkanlah, para murid sudah mengalami euforia karena punya kekuatan dari Yesus dan orang-orang datang meminta tolong mereka untuk mengusir roh yang merasuki seseorang, tetapi mereka gagal. Rupanya mereka tidak memelihara hikmat Allah itu dengan doa dan puasa. Barangkali mereka pikir, kekuatan hikmat Allah itu sekali diberikan untuk selama-lamanya dan tidak butuh maintenance dan update!

Kekuatan hikmat Allah tidak menjadi operasional dalam diri orang yang iri hati, mementingkan diri sendiri dan memegahkan diri. Maka dari itu, jenis kerasukan atau kesurupan seperti ini (yang merebak dalam seluruh lapisan masyarakat) jauh lebih sophisticated pengusirannya: menuntut diri menjadi pengusir roh jahat dalam dirinya sendiri! Jelas lebih sulit: adakah koruptor yang berdoa sebelum melancarkan operasinya? Adakah orang yang terbakar balas dendam berdoa dulu sebelum membalaskan dendamnya? Adakah orang yang mengincar jabatan berdoa dulu sebelum memfitnah pesaingnya? Ya, mereka melakukan ritual, tetapi tidak berdoa.

Doa dan puasa yang benar melembutkan hati, membebaskan si pendoa dari aneka iri hati dan kepentingan diri semata, menempatkan dirinya di hadapan Allah: semoga nama-Mu dimuliakan, bukan aneka kepentingan diriku belaka. Di sini orang mengikuti cara Allah bekerja, bukan caranya sendiri.

Mustakaweni bd

SENIN BIASA VII A/2
24 Februari 2014

Yak 3,13-18
Saudara-saudara, siapakah di antara kalian yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan. Jika kalian iri hati dan mementingkan diri sendiri, janganlah kalian memegahkan diri dan berdusta melawan kebenaran! Itu bukanlah hikmat dari atas...

Mrk 9,14-29
Ketika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali… mereka melihat orang banyak mengerumuni murid-murid lain dan beberapa ahli Taurat sedang bersoal jawab dengan mereka… Kata seorang dari orang banyak itu, “Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu karena ia kerasukan roh yang membisukan dia… Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu supaya mengusir roh itu, tetapi mereka tidak bisa.” …. Ketika murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka, “Mengapa kami tidak bisa mengusir roh itu?” Jawab Yesus kepada mereka, “Jenis ini tidak bisa diusir kecuali dengan doa dan puasa.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s