Bapaaaaaak!

Ini fragmen tentang teman Ahong yang saya jumpai di Rumah Sakit Panti Asih Pakem. Namanya Teguh, 5 tahun lebih tua dari saya tapi fisiknya 3 kali lebih pendek dari saya (gimana ngukurnya jal?). Teguh selalu duduk diikat di kursi balita yang terbuat dari kayu. Ia buta dan sehari-hari yang dilakukannya selain makan-tidur ialah memanggil dengan suara keras,”Bapaaaaak!” Suaranya khas, dan senantiasa membuat terenyuh. Pada saat setelah Teguh meneriakkan sapaan ‘bapak’ itulah saya memanggil namanya seperti seorang guru TK menyapa muridnya seramah-ramahnya,”Teguuuuh.” Segera setelah mendengar namanya disebut, Teguh tertawa terpingkal-pingkal yang juga sangat khas sebagaimana tawa bayi dan itu senantiasa membuat saya tersenyum.

Tentu saja, kadang saya juga terlebih dulu menyapa Teguh, apalagi kalau anak-anak lain tak ada yang berulah dan suasana sal kurang meriah. Saya panggil Teguh dan dia selalu berteriak, “Bapaaaak!” dan ketika saya sebut lagi namanya, Teguh tertawa terpingkal-pingkal dan itu memberi suasana tertentu. Saya tidak mempermainkan Teguh, tetapi saya belajar mengerti bagaimana dunia tanpa warna dan cahaya itu berarti ketika sapaan pribadi terdengar. Saya tak mendapat informasi bagaimana Teguh yang hampir berusia 30 tahun itu hanya bisa melafalkan kata ‘bapak’.

Bacaan dari Kisah Para Rasul yang senantiasa dibacakan pada hari Pentakosta ini mengundang pembaca untuk mengerti bahasa Roh yang prinsipnya menjangkau seluruh bangsa manusia; bukan bahasa eksklusif, melainkan inklusif; dan itu kita semua mengerti: bahasa cinta, bahasa yang terdistorsi atau direduksi oleh orang-orang yang bikin macam-macam perkara di bumi ini (ingat cinta pret ya). Teguh mengingatkan saya pada misteri Pentakosta. Apa hubungannya?

Saya tak ingat kata pertama yang meluncur dari mulut saya pada saat balita. Mungkin “mamak”, “emak”, “embok”, “ma’e”, entahlah. Bayi lain mungkin melontarkan kata pertamanya ‘mamah’, dan sekarang mungkin ada juga yang bahkan sanggup berujar ‘mahmud’ (itu kalo ibunya memang gimanaaaa gitu). Ini kata yang muncul secara alamiah sebagai bahasa cinta yang diperkenalkan ibu kepada anaknya. Panggilan ‘bapak’ dalam terang pengalaman bersama Teguh tidak bersifat alamiah karena mengingatkan saya pada sapaan yang dilontarkan Yesus sendiri kepada Allah: ‘Abba’, yang memang tak bisa dipadankan dengan ‘papah’ jodohnya ‘mamah’ tadi.

Poinnya ialah bahwa sebutan Allah sebagai Bapa hanya mungkin dibuat karena Roh Kudus sendiri. Para murid mampu menyapa Allah sebagai Bapa karena pengalaman mereka dengan Yesus yang telah memperkenalkan sebutan ‘Bapa’ itu dan tentu saja karena Roh Kudus yang dicurahkan kepada mereka. Hanya karena Roh Kudus umat beriman mampu menjalin relasi pribadi dengan Allah. Pentakosta adalah peristiwa iman yang mengundang orang menghidupi cintanya dengan dasar relasi pribadi dengan Allah itu. Maka, entah cinta kepada Ahong, Teguh, Mario, gubernur, atau Babi Panggang Karo (BPK) tak pernah sungguh-sungguh gurih dan lezat kalau tidak dikonfrontir dengan relasi pribadi dengan Allah itu. AMDG aja sih singkatnya.

Ya Roh Kudus, kobarkanlah cinta kami kepada Allah dalam perjumpaan dengan sesama. Amin.


HARI RAYA PENTAKOSTA C/2
15 Mei 2016

Kis 2,1-11
Rm 8,8-17
Yoh 14,15-16.23b-26

Hari Raya Pentakosta B/1 Tahun 2015: Ribut Melulu di Dalam?
Hari Raya Pentakosta A/2 Tahun 2014: Pentakosta Sudah Dimulai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s