Wanita Hebat

Konon, di balik pria sukses, mesti ada perempuan hebat dan jika kesuksesannya berlipat ganda, barangkali perempuan hebatnya juga berlipat ganda, entah kehebatannya ataupun jumlahnya. Yang perspektif pikirannya reduktif seperti dibahas posting kemarin akan mengasosiasikan pernyataan ini sebagai legitimasi untuk poligami; padahal tak ada indikasi bahwa pernyataan itu bicara soal relasi suami istri. Tapi ya begitulah kaidah hermeneutika: orang kerap tak mengambil jarak dari prapemahamannya sehingga bagaimana ia memahami sesuatu ditentukan oleh prasangkanya itu, yang bisa berupa pengalaman subjektif. Akibatnya, begitu membaca teks pria-wanita, njuk pikirannya cuma kawin dan kawin; seolah dunia ini tercipta hanya untuk perkawinan.

Hari ini Gereja Katolik memestakan seorang ‘pemain pengganti’ yang menggenapi jumlah 12 dari para rasul yang dididik oleh Yesus. Kenapa ya kok dibela-belain angka keramat 12 itu? Bukankah akhirnya nanti ya lama-lama jumlahnya akan berkurang juga? Iya sih, tapi setidaknya berkurang bukan karena berkhianat, melainkan karena penunaian tugas sampai tuntas. Alam pikiran Yahudi tampaknya sangat kental dengan angka yang menyimbolkan kesempurnaan, kepenuhan, keutuhan bangsa Israel dan itu juga gak perlu kita ributkan. Terima saja kerinduan bahwa Allah menyelamatkan seluruh bangsa.

Matias barangkali baik menjadi panutan mereka yang bekerja di balik shadow. Ia sosok murid yang mengenal dan setia mengikuti Yesus meskipun tak terhitung sebagai 12 murid istimewanya. Ini orang yang fokus pada kemuridan. Bukan sosok menonjol, tetapi toh merupakan murid sejati yang tahu bagaimana tinggal dalam shadow: tidak mencoba-coba mempromosikan dirinya atau diam-diam meminta pengakuan supaya nantinya dibangunkan altar pemujaan yang pantas dikasih kemenyan.

Tidak gampang loh bekerja di balik layar. Tak sedikit orang yang bekerja di balik layar tetapi menghayati hidupnya secara pedih karena kompleks rendah diri, memelihara kecemburuan, memendam kemarahan, menyimpan kepahitan, merasa diri sebagai korban kesalahan orang lain, dan sebagainya. Dalam kontemplasi saya, Matias tidak menghidupi kepribadian yang split (membuat pilihan-pilihan yang justru bertentangan dengan nilai objektif yang digembar-gemborkannya) karena dia berfokus pada tindak mencintai Allah dan melayani Gereja-Nya. Tidak mudah juga sih mengklaim diri tidak split. Bisa jadi fokus orang bergeser pada konsekuensi pekerjaannya dan bukannya pekerjaannya sendiri untuk memuliakan Allah. Dibutuhkan on-going conversion.

Mereka yang punya kompetensi dan kemudian mengizinkan dirinya, apalagi mengupayakan dirinya, jadi seleb biasanya tak tahan bekerja di balik layar. Memang itulah potensi bahayanya selebritas: membuat orang jatuh pada superfisialitas karena waktunya jauh lebih banyak diinvestasikan pada popularitas daripada kerjanya sendiri.

Ya Tuhan, semoga setiap pekerjaan kami boleh menjadi cara untuk memuliakan nama-Mu. Amin.


PESTA S. MATIAS RASUL
(Sabtu Paska VII)
14 Mei 2016

Kis 1,15-17.20-26
Yoh 15,9-17

Posting Tahun 2014: Berjudi dengan Kehidupan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s