Cinta Pret

Dulu saya muak dengan berita politik justru setelah menggarap skripsi tentang politik murni. Mungkin juga setelah menulis dua buku yang eksplisit omong soal cinta saya jadi eneg terhadap tembung alias kata cinta itu. Hueksss…. padahal itu unsur hakiki dalam kerohanian orang je. Tapi mungkin justru karena adanya diskrepansi alias ketidaksesuaian antara yang ideal dan yang real itulah yang bikin saya muak dengan wacana cinta. Banyak orang menyalahgunakannya dan saya sendiri tidak merasa katam juga dalam memahami kata memuakkan itu.

Kemarin tersodorkan insight bahwa panggilan orang beriman tak berhenti pada pewartaan kata-kata, melainkan pewartaan dengan keseluruhan hidup orang: kesaksian. Hari ini disinggung substansinya yang mesti dipersaksikan itu: cinta (hueksss). Ini tak pernah merupakan kata benda. Begitu jadi kata benda, asosiasinya langsung melekat pada seks dan kroni-kroninya. Begitu cinta direduksi sebagai kata benda, ia jadi buah relasi kekuasaan, kekuatan, kekerasan.

Cinta yang dimaksud dalam bacaan hari ini memanifestasikan identitas murid-murid Yesus: tindakan cinta yang mewarnai relasi antarpribadi. Cinta, kalau mau dipaksakan sebagai kata benda, merupakan pengalaman mendalam antarpribadi yang memuat kebersamaan dalam afeksi maupun nilai yang digulati: kegembiraan, kesedihan, penderitaan, kesusahan, pendewasaan, penolakan, kesetiaan, hadiah, tanggung jawab, kehidupan, kematian, dan sebagainya. Kitab Suci bahasa Ibrani punya satu kata yang merangkum itu semua: hesed. Terjemahannya ya terpaksa pakai kata ‘cinta’ itu. Biasanya sih dipakai kata belas kasih, kemurahan hati, atau kerahiman (ilahi), tapi itu pun bisa menyesatkan karena akhirnya ya bergantung bagaimana ditafsirkan.

Repotnya, karena bergantung pada penafsiran, mungkin saja orang tak bisa move on dari prasangka atau praduga atau istilah kerennya pre-understanding (prapemahaman). Akibatnya, orang macam ini bisa jatuh pada ideologi sesat: cinta harus kawin (padahal hanya karena punya pengalaman mencinta setelah kawin), peluk cium itu pasti dengan nafsu (karena sendirinya tak punya pengalaman peluk cium yang tidak direcoki nafsu semata), cinta itu mesti cemburu (hanya karena tak punya pengalaman akan komitmen yang bebas dari benalu cemburu), dan sebagainya.

Prapemahaman yang bisa menyesatkan itu masih bisa dikoreksi tentu saja. Dalam konteks Kristiani, koreksi itu bisa dilakukan dengan tolok ukur apa yang dihidupi Yesus (1Yoh 2,6), bagaimana Yesus menjalin relasi dengan pribadi-pribadi yang dikasihinya: persahabatan, pengorbanan, kesetiaan, belas kasih, relasi intim dengan Allah, dan sebagainya. Mungkin bisa diambil misalnya bahan kontemplasi tentang Yesus yang begitu dekat dengan keluarga di Betania (Maria, Marta, Lazarus; Yoh 11,5.33-36); bisa juga dipertimbangkan mandatnya kepada para murid (Yoh 13) dan identitasnya dalam hubungan dengan Allah sendiri (Yoh 15).

Pokoknya, kalau cinta-cintaan itu tak mempertimbangkan relasi ‘vertikal’ dan cuma muter-muter doang “Apa yang bisa gue dapetin?“, namanya cinta pret.

Ya Allah, semoga kami semakin mampu mencinta sebagaimana Engkau inginkan. Amin.


HARI JUMAT PASKA VII
13 Mei 2016

Kis 25,13-21
Yoh 21,15-19

Posting Tahun 2015: Makin Suci, Makin Banyak Dosa
Posting Tahun 2014: More Than Words…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s