Iklan Bernyawa

Adakah sekarang ini produk yang tidak diiklankan, entah oleh diri sendiri ataupun oleh pihak ketiga? Mungkin gak ada ya, wong produk mangkrak aja disosialisasikan. Paulus punya pikiran serupa. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma (bab 10), ia mengungkapkan keresahannya: gimana orang akan mendengar tentang Allah kalau gak ada yang memberitakan-Nya? Keresahan itulah yang menganimasi Paulus untuk secara gagah berani menjadi iklan hidup (bukan hanya bermodal conthong – itu loh, wadah kacang rebus berbentuk kerucut, mirip corong yang bisa dipakai untuk halo-halo) bagi Allah yang karena cinta-Nya mau mengorbankan Diri bagi manusia. Ini gak perlu hanya dimengerti sebagai doktrin Kristen yang mengklaim Allah menjelma jadi manusia dan manusia itu jadi menderita. Tidak begitu pun orang bisa mengerti bagaimana Allah jadi korban: alih-alih jadi sosok Allah yang otoriter, Dia menghormati kebebasan manusia, dan tentu saja menempatkan Diri sebagai korban manusia yang serampangan dengan kebebasannya.

Bacaan pertama hari ini memuat peneguhan Tuhan kepada Paulus supaya tetap menjadi saksi, bukan lagi sekadar pewarta; bukan saksi seperti dalam persidangan, melainkan saksi yang memungkinkan orang menyaksikan kebenaran yang dihayatinya. Ya sebetulnya sama saja sih sebagai pewarta, cuma pewartaannya bukan semata dengan kata-kata, melainkan juga tindakan yang diresapi oleh Sabda Allah. Gak gampang tentu saja karena konsekuensinya berat, apalagi pada masa Paulus hidup. Banyak penentang dan sebagian dari mereka melakukan penganiayaan.

Apa mau dikata, a faith that is not uncomfortable, that does not put in a position to take a stand against ways of life which do not respect human dignity, is a faith of dubious quality that does not convince anyone. Orang yang beriman sungguhan tentu saja jadi duta perdamaian, tetapi bukan perdamaian yang identik dengan ketenangan karena diam-diam orang tunduk pada kekuasaan otoriter, bukan perdamaian yang muncul karena semangat melarikan diri dari keribetan urusan duniawi, bukan ketenangan yang dibalut tembok tebal bangunan agama. Lha, susah, kanNek mau gampang aja ya gak usah beriman; bersembunyi saja di balik kedok agama!

Ya Tuhan, semoga kami berani mempersaksikan hidup sejati-Mu dalam setiap pilihan hidup kami. Amin.


HARI KAMIS PASKA VII
12 Mei 2016

Kis 22,30; 23,6-11
Yoh 17,20-26

Posting Tahun 2015: Iman Sama Agama Beda
Posting Tahun 2014: Menyenangkan Siapa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s