Cagar Buaya

Beberapa waktu lalu saya sempat pergi mengelilingi perkampungan suku Sasak di Lombok dan yang menarik saya bukanlah peninggalan benda-benda matinya: kain songket, rumah adat, lantai yang dipel dengan kotoran kerbau, dan suvenir-suvenirnya. Yang menarik saya adalah tradisi hidup yang mereka pelihara: kawin lari (pemuda-pemudinya sama-sama suka) atau juga kawin culik (pemudanya doang yang suka, pemudinya enggak). Saya bukan pemandu wisata, jadi takkan saya ceritakan di sini bagaimana tradisi itu dipelihara. Silakan berkonsultasi pada eyang Google.

Ingatan itu muncul karena dua bacaan hari ini sama-sama merupakan wacana perpisahan dan yang menarik saya adalah baik Paulus maupun Yesus berkehendak meninggalkan warisan hidup, warisan rohani, yaitu orang-orang yang mereka didik, mereka dampingi, mereka ajar, mereka tegur, dan sebagainya. Jadi, saya tak begitu ambil pusing dengan aneka cagar budaya yang bersifat fisik. Bukan berarti saya sepakat dengan penghancuran aneka cagar budaya yang bersifat fisik, tetapi saya lebih concern dengan cagar rohani tadi: kerohanian yang dihidupi oleh orang-orangnya.

Paulus mengingatkan penatua jemaat Efesus tentang kemungkinan adanya serigala-serigala ganas di antara jemaat, yang menyodorkan kesesatan rohani, dan karenanya Paulus mengharapkan mereka supaya menjaga diri dan kawan-kawannya, sebagaimana selama itu sudah dilakukan oleh Paulus. Yesus melontarkan harapan yang sama, tetapi objek tujuannya bukan para penatua, melainkan Allah Bapanya supaya menjagai para murid dengan Roh Kudus.

Tanpa pemeliharaan warisan rohani seperti itu, yang dilanggengkan barangkali adalah semacam cagar buaya yang menyusun kekuatan predator berjamaah. Kasus Yuyun dan yang lain-lainnya adalah indikator adanya cagar buaya itu. Boleh jadi orang gemes dan gregetan dengan para pelaku, yang sebetulnya juga adalah korban produk dari cagar buaya itu. Bisa jadi lembaga negara sibuk dengan perumusan hukuman untuk mengakomodasi kemarahan masyarakat atas perilaku bejat para pemerkosa sampai-sampai lupa pada akar persoalannya sendiri: cagar buaya lebih dipupuk daripada cagar budaya.

Ya mau apa sih kalau anak-anak dibombardir dengan tayangan tak bermutu? Mau apa sih anak-anak yang dicekoki slogan cinta yang dimeterai dengan kultur cari kemenangan, suara keras, pemaksaan, sikap otoriter dan kawan-kawannya? Bagaimana mengharapkan anak bisa menghargai pribadi dalam kultur yang melecehkan seksualitas? Apa yang bisa diharapkan dari anak yang dibrainwash dengan doktrin cinta damai agama sembari menyodorkan di sana-sini kekerasan atas nama agama?
Semoga, alih-alih ngotot dengan hukuman mati untuk pelaku kejahatan seksual (dan kejahatan lainnya), orang mau berkaca dari pelaku dan menjadi rendah hati bahwa dalam diri setiap orang, potensi aneka jenis kejahatan bisa terkuak jika ia tak memelihara cagar budaya, ajang kerja Roh Allah dalam dunia fisik ini.

Ya Tuhan, semoga kami mau berpartisipasi melestarikan cagar budaya yang Kautumbuhkan dalam hati kami. Amin.


HARI RABU PASKA VII
11 Mei 2016

Kis 20,28-38
Yoh 17,11b-19

Posting Tahun 2015: Terlibat, Tidak Regresif, Tidak Agresif
Posting Tahun 2014: The Spirit, He Knows Better…