Susahnya Sederhana

Hidup kekal, yang sudah dimulai bagi masing-masing dari kita, adalah soal pengenalan akan Allah. Hidup yang sudah diberikan kepada kita ini (entah dianggap sebagai berkat atau kutuk) merupakan suatu jalan menuju pengetahuan sejati: mengenai Allah yang tergapai lewat penyingkapan interioritas diri kita, mengenai ‘Aku’ yang sejati dalam terang wajah Allah yang sesungguhnya. Dua kutub ini ‘memaksa’ kita untuk terus bergerak tiada henti menemukan Allah, menemukan kedirian yang sejati, menapaki suatu jalan verso Dio (ciyeh… promosi website): jalan menuju Allah.

Tak sedikit orang beranggapan bahwa hidup ini hanyalah soal survival, soal menghitung hari, soal pemenuhan aneka kebutuhan (entah bagaimanapun mau diurutkan prioritasnya). Mereka yang punya keberanian lebih barangkali mengimpikan dan kerap kali merealisasikan juga suatu kisah cinta (bagaimanapun wujudnya: horor, tragedi, komedi, drama). Akan tetapi, semua yang kita lakukan, yang kita konkretkan, yang mungkin kita coba-coba, semuanya mengantarkan kita pada penemuan wajah Allah yang tersembunyi di balik dan di dalam realitas. Sayang memang, hanya sedikit saja energi yang kita dedikasikan untuk pengenalan macam itu dan lebih banyak waktu kita buang untuk sesuatu yang tak bisa menggenangi kita dengan pengenalan sejati itu.

Tentu saja, de facto mereka yang secara finansial belum mapan akan lebih condong melihat hidup sebagai suatu survival. Boro-boro baca blog, beli pulsa aja gak kesampaian! Boro-boro menghayati kebebasan, kedamaian, ketenangan, makan saja mesti cari cara supaya selamat dari kejaran massa yang berteriak maling! Boro-boro pikir mengenai hal-hal suci, cari pekerjaan aja susahnya setengah mati!

Akan tetapi, justru di situlah persoalannya! Sudah hidup susah, pikiran suci digusah (diusir)! Kalau di balik kesulitan hidupnya orang tak melihat kesucian, ia sendirilah yang menciptakan neraka! Saya mengacu pada pengalaman sebagai pengemis, yang bukan sekadar simulasi demo sebagai orang miskin, melainkan sungguh-sungguh menempatkan saya pada situasi tanpa jaminan manusiawi [ya ada sih surat pengantar, yang baru terpakai kalau saya dalam sakratul maut digebuki massa karena nyolong lauk di restoran misalnya]. Risiko mengemis tentu saja tak sedikit, dan kalau perut sudah tak bisa kompromi, apa saja bisa terjadi.

Pada situasi ekstrem kelaparan itu, saya tak bisa hidup dengan memaksakan idealisme saya sendiri: bahwa orang lain harus kasihan pada saya, mereka harus menolong saya, mereka harus memberi makan saya yang seharian belum makan meskipun sudah berjalan 40-an kilometer. Cemoohan, ejekan, pandangan jijik, ketidakpedulian orang lain tentu jadi bagian dari respon yang diterima pengemis yang hidupnya memang susah. Akan tetapi, kalau dalam kesusahan itu tak disisipkan kekuasaan Allah sendiri, akhirnya orang mengambil posisi yang serupa dengan mereka yang mencibir pengemis: menilai, menghakimi, memaksa, bahkan merampas hak orang lain. Tak ada bedanya antara yang digusur dan penggusur, antara pengemis dan orang yang di’emis’i, antara yang tertindas dan penindas.

Elemen pembedanya ada pada ‘pikiran suci’ tadi: membiarkan Allah ambil bagian dan dengan demikian memandang pihak lain sebagai sparing partner untuk menggapai pengenalan sejati dalam dialog (yang mungkin butuh pihak ketiga sebagai perantara).

Ya Tuhan, semoga Roh Kesederhanaan membantu kami menemukan wajah-Mu dalam kesulitan hidup kami. Amin.


HARI SELASA PASKA VII
10 Mei 2016

Kis 20,17-27
Yoh 17,1-11a

Posting Tahun 2015: Pengetahuan Tertinggi
Posting Tahun 2014: Memuliakan Tuhan, Mangsudnyah?