Mengukur Iman

Tak gampang mengukur iman orang, lebih susah lagi mengukurnya ketika segalanya berjalan tak sesuai dengan harapan. Orang bisa tampak pasrah, tetapi di dalamnya frustrasi mendominasi. Artinya, dalam situasi yang serba gak kepeneran itu orang bisa membualkan ucapan ‘pasrah’, sementara dalam hatinya terpatri keputusasaan tingkat tinggi. Ketika segalanya berjalan sesuai skenario, mengukur iman juga tak mudah karena orang bisa saja membualkan kebaikan Tuhan saat dalam hatinya bergaung suara keras bahwa kesempurnaan hidup ini semata merupakan jerih payahnya mengelola sumber daya.

Orang mungkin sering berpikir atau berharap bahwa orang yang takwa kepada Allah itu semestinya mengalami ketenangan hidup yang stabil tanpa gejolak pergumulan. Akan tetapi, kenyataannya justru orang beriman itu mesti meletakkan segala unsur hidupnya dalam pergulatan, konflik, diskusi, konfrontasi. Memang itu jugalah insight yang diperoleh dari kenaikan Tuhan yang dirayakan beberapa hari lalu: Yesus naik ke surga supaya bisa hadir, diakses dari segala penjuru. Andaikan dia tak naik ke surga (alias tetap tinggal di kuburan orang-orang Yahudi, tak ada kebangkitan), dia hanya akan dikenal oleh orang-orang Yahudi, sehebat apa pun.

Begitu pula halnya hidup umat beriman, ketenangan hidup baru bisa ditemukan ketika orang menggeser sudut pandangnya ke arah yang lebih ‘tinggi’, yaitu sudut pandang yang melibatkan kedalaman relasi dengan Roh Kudus sendiri. Sudut pandang macam ini tak mungkin membiarkan umat beriman stagnan, berpuas diri dalam kesempurnaan (baca: kenyamanan) hidupnya. Kedamaian Tuhan bukanlah kedamaian yang terisolir dalam batas meditasi (entah dengan objek atau tanpa objek), melainkan kedamaian yang mencemplungkan orang dalam pergumulan panggilan hidupnya. 

Kedamaian Tuhan ini mungkin tak memecahkan aneka persoalan, tetapi membantu orang beriman untuk melihat persoalannya dalam terang yang lain, yaitu terang iman. Iman senantiasa adalah sebuah keterlibatan dan dengan modal inilah orang masuk dalam aneka persoalan tanpa kehilangan pegangan bahwa Allah tetap senantiasa bersama orang-orang yang dicintai-Nya.

Ya Tuhan, semoga kami menemukan jejak-jejak kehadiran-Mu dalam kesibukan sehari-hari kami. Amin.


HARI SENIN PASKA VII
9 Mei 2016

Kis 19,1-8
Yoh 16,29-33

Posting Tahun 2015: Arogansi Pengikut Kristus
Posting Tahun 2014: Sebetulnya Paham Gak Sih?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s