Roh Pecah Belah

Di sebuah gereja tempat saya merayakan Ekaristi, saya dapati setiap kali Doa Syukur Agung setelah Kudus, umat tetap berdiri alih-alih berlutut. Maklum, tak ada tempat berlutut. Pada suatu kesempatan, saya dapati rubrik dalam teks misa bertuliskan “Umat berlutut/duduk”. Pada saat itu saya persilakan umat untuk duduk selama Doa Syukur Agung. Dalam batin saya bergumam,”Semoga gak ada yang rewel.” Setelah selesai misa, malah ada umat yang berkomentar,”Untung Romo mempersilakan duduk. Kalau tidak ya kami berdiri terus.” Lalu kami tertawa. Mungkin karena umat itu terbebaskan dari lamanya berdiri sejak persembahan, tetapi saya sendiri tak begitu merasa sreg dengan umat berdiri saat saya mendaraskan Doa Syukur Agung. Terlepas dari suka atau tidak sukanya umat dan saya, pada teks sendiri memang tertera rubrik “Umat berlutut/duduk” itu sehingga saya tak perlu berpikir panjang dan risau dengan kemungkinan adanya umat yang rewel, yang mungkin sudah terbiasa dengan berdiri kalau tidak dimungkinkan berlutut.

Mimpi Yesus bagi murid-muridnya adalah kesatuan hati, tetapi sepanjang sejarah Gereja jelaslah kesatuan yang didoakan Yesus itu susah banget direalisasikan. Kenapa? Karena orang pada umumnya lebih condong mendengarkan bisikan roh pemecah belah daripada roh yang menyatukan hati itu. Kenapa bisa begitu? Ya karena memang orang berpikir dengan modal pengamatan fisik inderawi. Orang duduk ya jelas berbeda daripada orang berdiri. Stukturnya berbeda.

Saya ingat pengalaman perjumpaan dengan sesama orang muda yang dalam perjalanan dan menggunakan kata ‘haus’. Pada saat pertama kali mendengar istilah itu, saya berpikir dengan kategori fisik. Tempat gersang, tentu saja membuat orang merasa haus. Akan tetapi, rupanya haus yang dimaksudkan orang muda itu adalah haus nonfisik, dan itu memang saya tangkap kemudian. Artinya, dalam arti tertentu, saya dan orang muda itu ada dalam kesatuan hati (dan budi): kita sama-sama punya keprihatinan mengenai banyaknya orang yang punya kekeringan batiniah.

Akan tetapi, seperti beberapa hari lalu sudah dibahas soal doa yang senantiasa push the limits, mendorong orang untuk keluar dari dirinya sendiri, wawasan itu senantiasa minta diperluas. Orang muda itu punya problem dengan kata ‘Katolik’ karena ini adalah sesuatu yang berbeda dengan ‘Islam’. Barangkali dalam benaknya, yang berbeda itu menjadi ancaman bagi kesatuan hatinya dengan umat Islam lainnya.

Kesatuan hati, saya kira, tidak sama dengan keseragaman atau tiadanya perbedaan, tetapi justru merupakan disposisi untuk menempatkan yang berbeda dalam kesatuan yang lebih hakiki. Maka dari itu, ini pasti bukan soal ketaatan kepada aturan partai A atau B, melainkan soal ketaatan kepada panggilan bonum commune yang mengatasi cara yang ditempuh partai A atau B. Kesatuan hati mestilah soal menemukan fondasi yang menopang kemanusiaan, keadilan sosial, bahkan yang menopang perikebinatangan dan keutuhan ciptaan. Fondasi itu hanya mungkin ditemukan dalam hati, tempat Allah menyentuh umat-Nya.

Ya Tuhan, semoga kami semakin mampu mengkomunikasikan iman kami kepada sesama, juga yang kulturnya berbeda. Amin.


HARI MINGGU PASKA VII
Hari Minggu Komunikasi Sedunia
8 Mei 2016

Kis 7,55-60
Why 22,12-14.16-17.20
Yoh 17,20-26

Posting Minggu Paska VII B 2015: Bukan Pupuk Bawang
Posting Minggu Paska VII A 2014: Sursum Corda!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s