Sursum Corda

Plesetan bukan cuma trade mark orang Jawa (orang Jawa kadang memelesetkan ungkapan untuk bercanda). Seorang anak Jerman pun bisa main plesetan. Anak ini beberapa kali hadir dalam misa tridentine (itu loh misa dengan bahasa Latin, yang gak sembarang imam bisa merayakannya secara publik, mesti ada izin dari uskup) dan suatu kali tergerak untuk mengikuti gerak dan kata-kata imam. Dalam Tata Perayaan Ekaristi bahasa Latin, sapaan imam pada awal Ekaristi dan Doa Syukur Agung berbunyi Dóminus Vobíscum yang artinya Tuhan [be]sertamu. Di tengah-tengah keluarganya ia berlagak menirukan gerakan imam dan berteriak keras: Dominus wo bist du yang artinya….. Tuhan, Kamu di mana?


Saya bukan penggemar misa tridentine, wong saya juga tak punya pengalaman masa lalu pra Vatikan II, lagipula kalau omong dengan bahasa terkenal saja belum tentu ditangkap orang lain, mosok saya mesti memakai bahasa yang hampir punah? Bagaimana saya mau percaya pada Roh yang menyatukan manusia jika saya ngotot dengan bahasa planet lain? Ya bisa tentunya kalau bahasa planet lain itu dijelaskan dengan bahasa planet sini.

Pada awal Doa Syukur Agung, setelah imam menyapa dengan seruan Dominus wo bist du tadi dan dijawab oleh umat dengan et cum spíritu tuo, imam lalu menyerukan Sursum corda (baca: korda). Seruan ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia: Marilah mengarahkan hati kepada Tuhan. Idenya sama dengan yang disebut pada Mazmur 25:1 dan gerak tubuh Yesus yang digambarkan Injil Yohanes hari ini (Yoh 17,1-11a): mengarahkan mata ke langit. Tindakan ini mengingatkan orang pada misteri yang baru saja dirayakan: kenaikan Yesus ke surga. Para rasul memandang ke langit dengan aneka perasaan yang berkecamuk.

Apa relevansi Sursum corda dan Hari Minggu Komunikasi Sedunia?
Tindakan komunikatif hanya mungkin terjadi jika hati diarahkan ke ‘atas’, jika hati tak terbelenggu oleh kepentingan ‘bawah’. Lha ini nih, absurd! Atas-bawah itu maksudnya apa ya?

Bacaan pertama (Kis 1,12-14) mengisahkan para rasul dan orang-orang terdekat Yesus kembali ke tempat mereka menumpang di Yerusalem: ke ruang atas. Di sanalah mereka bertekun sehati dalam doa bersama menantikan kedatangan Roh Penghibur  yang dijanjikan Kristus. Apakah selama seminggu lebih mereka tidak turun-turun dari ruang atas? Tentu tidak. Teks itu hanya mengatakan bahwa mereka ke ruang atas untuk bersatu dalam doa: pasti bukan adorasi 24 jam! Para murid tetap  memerlukan dukungan untuk survival di tengah ancaman orang-orang Yahudi yang memusuhi Kristus dan pengikut-Nya, tetapi pokoknya mereka meluangkan waktu untuk berdoa bersama (bdk. Luk 24,53).

Bacaan pertama (1Ptr 4,13-16) menyodorkan penegasan Petrus bahwa kalau memang murid Kristus mesti menderita, layaklah ia menderita karena Kristus (bukan karena pembunuh, penganiaya, tukang teror) dan respon terhadap penderitaan itu justru adalah memuliakan Kristus tadi.

Jadi konkretnya gimana sih? Barangkali bisa kembali pada kata-kata Paulus (Kol 3,1-4): mencari perkara di ‘atas’ dalam kesibukan sehari-hari. Apa itu? Menangkap makna, menemukan benang merah dari aneka peristiwa, reading between the lines. Contoh historis yang belum lama terjadi: 1 Juni, Hari Kelahiran Pancasila!

Pancasila untuk anakPara founding fathers bangsa ini sungguh visioner. Tahu bahwa di tataran konkret ada kemajemukan (suku, bahasa, kultur, agama), mereka memperjuangkan perkara yang mengatasi potensi konflik: Pancasila. Lagi saya kutipkan kata-kata Anies Baswedan: lawan debat adalah teman berpikir! Konkretnya orang berdebat, tetapi sikap hati orang perlulah mengatasi kesempitan debat dengan aktivitas yang lebih luas: berpikir.

Percaya gak sih….quo universalius, eo divinius est? Kalau mau dan ada waktu silakan baca lagi posting yang ini.