Bukan Bukti, melainkan Saksi

Istilah black campaign belakangan ini cukup marak, tetapi kampanye seperti itu sudah ada pada masa seputar kebangkitan Kristus. Petrus menangkap rumor yang beredar di masyarakat dan secara khusus ia meneguhkan Kornelius dan beberapa orang lainnya. Bisa jadi mereka mendengar black campaign  bahwa jenasah Yesus itu dicolong orang, lalu rasul-rasul berkoar-koar bahwa Yesus bangkit dari mati.

Petrus kiranya dapet pelajaran homiletika (semacam ilmu public speaking gitu deh) dari Yesus, sekurang-kurangnya meniru gayanya. Ia menggarisbawahi pengetahuan yang kiranya dimiliki Kornelius tentang apa yang mereka dengar mengenai peristiwa Yesus, dan di akhir ia menegaskan: kami saksi matanya. Akan tetapi, dalam hal kebangkitan, saksi mata itu pun gak perlu dimengerti sebagai saksi mata kepala: melihat kebangkitan dengan mata kepala sendiri. Tidak ada orang yang sanggup menyaksikan dengan mata kepala sendiri kebangkitan Yesus. Menurut penelitian sains, tapi ya itu katanya, kebangkitan itu merupakan peralihan energi dahsyat yang tak terlukiskan peristiwanya. Mboh…..

Kisah Injil pagi ini menunjukkan proses bagaimana kepercayaan para murid terbentuk. Kepercayaan mereka akan kebangkitan Kristus tidak dilandaskan pada bukti, melainkan suatu proses pemahaman yang bertautan dengan pengalaman hidup mereka sebelumnya. Itu seperti kalau orang memahami suatu peristiwa setelah segalanya selesai dan baru berkomentar, “Oooo…pantesan kemarin dulu itu dia bilang gak bakal makan emping secuil pun, ternyata asam urat toh!!!” Itu dikatakannya setelah temannya terpaksa dirawat di rumah sakit karena ia memaksa temannya makan emping! Lha iyalah…telmi lu

Para murid sih sepertinya gak telmi (telat mikir), tetapi telat memahami. Bukan apa-apa, sepintar apapun orangnya, peristiwa kebangkitan tak terpikirkan saat itu. Maka dari itu, sejak awal Yesus sudah omong berapi-api bahwa ia bakal disiksa, dibunuh, tapi bangkit pada hari ketiga, gak ada yang ngeh. Murid-muridnya tidak, apalagi lawan-lawannya!

Rupanya, peristiwa kebangkitan memang tidak menuntut saksi mata kepala. Para murid cukup masuk dalam proses hermeneutika, dalam proses penafsiran atas pengalaman hidup mereka. Baru setelah melihat makam kosong dan kain kafan tertata, si murid ngerti: ooo….brarti memang betul Dia sudah bangkit! Haleluyaaaaaaaa!!!!

Hoeeee…tapi gak selesai di situ! Kegirangan batin itu mesti terluapkan dalam kesaksian. Bagaimana? Salah satunya disodorkan oleh Paulus: pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi! Asem teles lha piye kuwi? Bagaimana itu? Apa orang gak boleh pikir duit, politik, sosial dan lain sebagainya? Hmmm..


MINGGU PASKA

Kis 10,34a.37-43
Petrus pergi ke rumah Kornelius dan kotbah mengenai kisah perjalanan Yesus yang berpuncak pada misteri Paska dan para rasullah saksi mata misteri itu.

Kol 3,1-4
Paulus mengundang jemaatnya untuk mencari perkara yang di atas, tempat Kristus berada.

Yoh 20,1-9
Sepeninggal Kristus, para rasul masih dalam status galau abis, antara percaya dan tak percaya. Makam kosong belum bikin ngeh hati dan pikiran mereka, tetapi lambat laun mengertilah para rasul itu bahwa Kristus memang telah bangkit.

3 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s