Selamat Paska, Jangan Lelah…

Tak pernah ada cerita mengenai kebangkitan meskipun para murid Yesus mewartakan kebangkitannya dari mati. Bacaan pada Hari Paska ini pun tidak bicara mengenai kebangkitan, tapi malah kisah balapan. Kok isa? Ya emang gitu. Diceritakan pertama-tama Maria Magdalena pagi-pagi benar ke kubur. Tindakan perempuan yang kehilangan sosok yang paling dicintainya bisa jadi sulit dimengerti. Akan tetapi, kita bisa mengertinya dari pengalaman mereka yang kehilangan orang terdekat: kadang aneh juga. Dalam kisah Paska, ini bukan soal keanehan, melainkan soal cinta yang senantiasa mencari pribadi yang paling dicintainya. Maria mengindikasikan hal itu, termasuk bahwa kemudian ia jadi gak begitu rasional. Mosok iya baru melihat batu penutup kubur bergeser lantas menyimpulkan bahwa jenasah Yesus diambil orang! Siapa tahu Yesus ngumpet di balik penutup kubur ?!

Petrus dan Yohanes, mendengar kabar Maria Magdalena, bersama-sama lari ke makam. Inilah balapannya. Siapa yang menang? Mestinya yang lebih muda: Yohanes tiba di makam lebih dulu. Akan tetapi, ia hanya melihat kain kafan terletak di tanah dan tidak masuk ke dalam. Petrus, yang datang belakangan, masuk ke dalam dan melihat pemandangan yang lebih komplet:  Ia melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung (Yoh 20,6-7).

Barangkali, sekadar menarik pesan sederhana dengan ilmu menggathuk-gathukkan (bahasa apa ini?), kisah balapan ini bisa diumpamakan sebagai balapan antara sprinter dan pelari marathon. Pelari cepat dalam jarak beberapa ratus meter itu memang tiba lebih dulu di pintu makam, tetapi pelari marathon akhirnya menyelesaikan balapan sampai tuntas masuk ke dalam makam. Juga dalam hidup nyata ada begitu banyak orang yang menggebu-gebu di awal, tetapi karena aneka kesulitan atau kelemahan yang dihadapinya, orang kehabisan stamina dan menyudahi begitu saja komitmen cintanya dengan Tuhan.

Pengetahuan iman memang bisa dijejalkan dalam kelas akselerasi untuk mereka yang daya tangkapnya tinggi, tetapi hidup beriman yang dilandasi pengalaman memerlukan ketahanan dan kesetiaan. Orang mungkin dengan euforia mengatakan secara verbal bahwa Yesus bangkit, tetapi dalam hatinya bisa saja ia punya agenda lain karena kebangkitan Kristus tak sungguh berakar dalam pengalaman hidupnya.

Semoga Paska memang memberi ketahanan umat beriman pada komitmen untuk ‘memikirkan perkara-perkara di atas’ (kata St. Paulus) dan menemukan makna hidup terjalnya dalam terang kebangkitan.


HARI RAYA PASKA KEBANGKITAN TUHAN (Fajar)
5 April 2015

Kis 10,34a.37-43
Kol 3,1-4
Yoh 20,1-9

Posting Tahun Lalu: Bukan Bukti, melainkan Saksi

2 replies

  1. Pernah saat paskah ga sengaja nonton film The Body nya Antonius Banderas.. benar-benar Paskah yang menggoncang Iman…..

    Like