Bukan Sembarang Saksi

Sepeninggal Yesus, kegalauan para pengikutnya gak cuma diwarnai ketakutan traumatis melihat kejamnya penyiksaan dan kematian guru mereka, tapi juga kekecewaan dan barangkali kemarahan. Ini kelihatan dari reaksi para pengikutnya yang berniat pulang kampung ke Emaus: Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi….

Kekecewaan itu rupanya menghalangi mata mereka untuk mengenali Yesus yang telah bangkit, bahkan meskipun Ia berjalan bersama mereka. Kekecewaan mereka menghambat akal budi untuk memahami nubuat para nabi mengenai Yesus. Mereka masih juga sibuk dengan ideologi mereka mengenai Mesias sebagai pemimpin dan penguasa politik yang membebaskan mereka dari penjajahan bangsa Romawi. Hati mereka masih juga dipenuhi mentalitas lama. Dalam terminologi Paulus, manusia lama mereka belum ikut mati bersama Kristus (Rom 6,6).

Apakah AHA experience yang mencelikkan mata sehingga mereka menyadari bahwa ternyata Yesus yang bangkit itu bersama mereka? Saat Yesus mengucap berkat dan memecahkan roti: Ekaristi! Pada saat itulah mereka tersadar, tetapi bersama dengan itu juga Yesus lenyap, tak bisa diobjekkan oleh kesadaran para murid. Objeknya jadi berganti, pengalaman perjumpaan mereka: wooooo…..pantesan tadi waktu Dia omong soal Kitab Suci, hati kita berkobar-kobar!!!

Hati yang berkobar-kobar oleh pemahaman Kitab Suci mengenai sosok Kristus sebenarnya menjadi tanda penyertaan Kristus. Hati yang berkobar-kobar ini merupakan hati yang baru yang dinubuatkan dalam Kitab Yehezkiel: Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.

Dalam hati yang berkobar-kobar itulah kerohanian tampak nyata melingkupi orang beriman; bukan kobaran hati karena deg-degan cinta monyet, melainkan kobaran hati karena Ekaristi: mau memecahkan roti dan share (bukan cuma like, halah….), gak jadi tinggal di kampung lama, melainkan kembali berkumpul bersama murid-murid lainnya untuk saling meneguhkan dan menjadi saksi kebangkitan. Mereka bukan sembarang saksi karena mereka punya pengalaman perjumpaan yang memantik hati mereka sehingga berkobar-kobar, menghalau jauh-jauh kekecewaan mereka.

So, kecewa bolehlah…tapi jangan lama-lama, bikin macet! Kristus sudah bangkit! Alelluia! Merdeka!


HARI RAYA PASKA KEBANGKITAN TUHAN (SORE)

Yeh 36,16-28
Rm 6,3-11
Luk 24,13-35

10 replies

      • Amin. Senadyan bahasane ki jane abot banget nggo aku ma hahaha… Tapi baiklah saya baca berulang kali (saestu! radi puyeng)

        Like

      • Hahahaha… syukurlah kalo itu abot banget :v moga2 besok bisa dikurangi beratnya… tengkyu inputnya. Memang isinya berat meskipun kalimatnya mungkin sederhana… mungkin memang butuh waktu khusus utk bacanya ya, baca pelan2 begitu…

        Like

      • 😀 I didn’t mean to make you proud by telling you that your writing is heavy for my understanding although you often used simple present tense. Hahaha… Kosa katanya saja saya belum tentu mudeng kok ma. Tapi gapapa, ok untuk proses belajar. Saya jadi tahu kalau jadi pastor itu belajarnya ruwet! Hahaha

        Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s