Kenaikan Tuhan Menuntut Keterlibatan

Bayangkanlah para murid terbengong-bengong keheranan memandang Yesus yang badannya terangkat dari tanah sampai menghilang dari pandangan. Sudah empat puluh hari mereka bersama Yesus yang mulia tetapi mungkin iman mereka pun tetap belum berkembang secara signifikan. Absennya Yesus Kristus dalam hidup sehari-hari para rasul menantang iman kepercayaan mereka.

Di satu pihak, Kenaikan Tuhan memanggil orang untuk fokus pada hal-hal surgawi, ‘terpisah’ dari tanah, seperti dinasihatkan Rasul Paulus supaya orang mengerti pengharapan yang terkandung dalam panggilan-Nya, betapa kayanya kemuliaan yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus (Ef 1,18-19). Di lain pihak, orang dipanggil untuk tidak pasif berpangku tangan dalam menunggu kembalinya Tuhan. Ada mandat untuk pergi dan menjadikan semua bangsa sebagai murid-Nya, membaptis dan mengajar mereka segala sesuatu yang telah diperintahkan Yesus (Mat 28,18-19).

Jadi, dalam terang Kenaikan Tuhan, orang diminta mengarahkan hati ke surga sementara menjejak bumi dalam upaya pewartaan Kerajaan Allah di seluruh dunia. Dibutuhkan suatu kontemplasi dan aksi. Nasib dunia ini tidak akan membaik hanya karena diskusi, pertemuan, atau peraturan. Akan tetapi, tidak ada perbaikan juga jika orang hanya aktif bekerja tanpa kontemplasi hal-hal surgawi. Wah, gak ngerti Romo omong apa sih?

Dalam Konstitusi Serikat Yesus nomor 622 disebutkan …bonum, quo universalius, eo divinius est. Halah… opo maneh iki?! Kebaikan itu, semakin universal sifatnya, semakin ilahi. Artinya, mengarahkan hati ke hal-hal surgawi itu tidak lain tidak bukan ialah mengarahkan tatapan kita pada bonum commune, pada perkara-perkara yang melampaui sudut pandang sempit. Anies Baswedan memberi contoh sederhana: lawan badminton bukan musuh, melainkan teman olah raga. Di situ ada pergeseran sudut pandang: bukan soal aku berjuang memusuhi kamu, melainkan soal kita bersama berolah raga.

Jika kebaikan semakin dijalarkan dan sifatnya terbuka pada kepentingan yang semakin luas, itulah kebaikan ilahi. Dengan prinsip itu, tidak perlu orang memahami baptisan semata sebagai upaya rekrutmen orang ke dalam agama Kristen, karena itu berarti mengacu pada identitas menyempit. Pewartaan Kerajaan Allah sebagai mandat Kenaikan Tuhan justru menantang keterlibatan orang. Keterlibatan yang utuh tidak sama dengan aktivisme belaka: orang mesti punya kontemplasi, yang jika direduksi sebagai gagasan atau wacana berarti orang mesti berpikir global (think globally), dan pada gilirannya akan mendorong orang untuk bertindak, yang pasti bersifat lokal (act locally).


KAMIS PASKA VI A/2
HARI RAYA KENAIKAN TUHAN

Kis 1,1-11
Ef 1,17-23
Mat 28,16-20

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s