Aaaaamiiiiiiinnnnnn

Dalam doa-doa liturgis Gereja Katolik, rumusan penutup doa sebelum dijawab ‘amin’ senantiasa menyebutkan Kristus sebagai Tuhan dan pengantara. Kiranya rumusan ini diambil dengan inspirasi dari teks Injil yang disodorkan hari ini: Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Rumusannya kurang lebih ‘demi Kristus, Tuhan (dan pengantara) kami’ atau yang versi panjang untuk doa presidensial, yang didoakan oleh imam dalam perayaan Ekaristi: ‘demi Yesus Kristus, Tuhan dan pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, sekarang dan selama-lamanya’. Kalau sudah tiba di situ, umat Katolik sepakat menutupnya dengan seruan ‘amin’.

Doa kepada Allah (Bapa) dalam nama Yesus Kristus ini, dalam refleksi Paus Fransiskus membuat kita keluar dari diri sendiri. Entah apapun isi doanya, akhiran ‘Demi Kristus’ senantiasa mengingatkan si pendoa bahwa ujung-ujungnya semua ini (semestinya) bukan pertama-tama demi kebaikan kita, melainkan kebaikan semua, sebagaimana dikehendaki Kristus sendiri. Si pendoa mesti mengosongkan dirinya sendiri dan membiarkan kehendak Allah bekerja.

Ada kalanya orang berdoa dan hidupnya tidak dilingkupi ketenangan, persis karena doa itu hanya merupakan ide-ide, gagasan-gagasan yang datang dan pergi di kepalanya, dan itu pula yang membuat perasaannya teraduk-aduk. Doa yang sesungguhnya adalah ‘pelarian’ dari kekacauan batin itu: orang keluar dari dirinya sendiri dan bersama Kristus, dengan bantuan Roh Kudus, menuju Allah yang menghendaki siapa saja menjadi anak-anak-Nya.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami senantiasa mengerti kehendak-Mu. Amin.


SABTU PASKA VI
7 Mei 2016

Kis 18,23-28
Yoh 16,23b-28

Posting Tahun 2015: Isra’ Mi’raj nan Meneguhkan