Bahagia yang Lupa Derita

Konon ada orang yang sewaktu melahirkan bayinya tidak merasakan sakit dan menganalogikan proses kelahiran anaknya laksana buang hajat. Ya ampun, moga-moga anaknya bukan hajat yang dibuang. Ibu ini mungkin tidak masuk dalam hitungan yang dipakai Yesus untuk membuat contoh kegembiraan yang muncul dari iman, soalnya teks hari ini bunyinya begitu: Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.

Seperti saya, Yesus tidak mengalami sakit melahirkan bayi, tapi kok ya bisa-bisanya dia bilang ibu yang melahirkan itu ‘lupa’ sakitnya setelah ‘berhasil’ melahirkan bayinya ke dunia? Apa dia membuat semacam survey begitu?

Diandaikan blog ini bahwa kebahagiaan bukanlah ranah rasa perasaan belaka. Ini bukan penyangkalan bahwa kebahagiaan itu memuat juga rasa perasaan, melainkan penegasan bahwa kebahagiaan adalah transformasi rasa perasaan sedemikian sehingga orang mendapat keluasan makna dalam hidupnya. Kenyataan iman bahwa Kristus menjadi manusia yang mengalami sakit dan penderitaan menegaskan bahwa Allah memang tak hendak mencabut pengalaman manusiawi itu.

Dalam refleksi Paus Fransiskus (pada Hari Orang Sakit Sedunia tahun 2014) dikatakan bahwa sakit dan penderitaan itu bisa ditransformasi atau diperluas dimensinya. Diperluas dimensinya dalam arti: sakit dan penderitaan itu tak punya kata akhir terhadap hidup. Bukan segala-galanya, bukan akhir, sebagaimana dipersaksikan oleh Yesus sendiri. Sakit dan derita itu justru jadi hidup baru dalam kepenuhan (nah lo… gimana jal mau memahaminya? Mungkin cuma mereka yang punya pengalaman sakit dan penderitaan dan tetap berimanlah yang bisa mengertinya secara utuh). Sakit dan penderitaan itu ditransformasi dalam arti: dalam relasi intim dengan Kristus, pengalaman negatif itu bisa jadi pengalaman positif.

Bukti autentik iman kepada Kristus adalah pemberian diri, realisasi cinta kepada sesama, khususnya kepada mereka yang kiranya dianggap tak pantas menerimanya (musuh, anak durhaka, teroris, mantan yang tak tahu diri), mereka yang menderita, mereka yang tersingkir. [Loh, mosok njuk mencintai mantan lagi, Rom? Iya, mencintai mantan sebagai mantan, sebagai masa lalu] Dalam pemberian diri macam itulah orang mengalami kebahagiaan yang mentransformasi dan memperluas dimensi sakit dan penderitaan sebagai jalan-jalan menuju Tuhan, bukan jalan-jalan menuju diri sendiri.

Ya Tuhan, semoga seluruh sakit dan penderitaan kami semakin mempertajam intuisi kami untuk mengalami perjumpaan dengan-Mu, dan bukan melarikan diri darinya. Amin.


JUMAT PASKA VI
6 Mei 2016

Kis 18,9-18
Yoh 16,20-23a

Posting Tahun 2015: Produsen Kebahagiaan
Posting Tahun 2014: Demi Kebaikan, Jangan Takut!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s