Mari Move On dari Mantan

Mungkin tak ada yang lebih membebaskan batin daripada pengakuan diri sebagai orang bodoh. Salah satu pertanyaan bodoh ialah kapan Yesus ini naik ke surga, dan selama empat puluh hari itu dia ngapain ajamosok cuma bolak-balik eksis menampakkan diri pada murid-muridnya? Gada kerjaan yang lebih heroik gitu?

Saya merasa bodoh dengan pertanyaan macam itu karena saya lupa (keadaan yang pasti diidam-idamkan oleh mereka yang mau move on dari mantan) bahwa empat puluh itu dalam Kitab Suci tak bisa diperlakukan secara literal sebagai kata bilangan tentu. Kayaknya ya pernah belajar Kitab Suci tapi kok luput mengingat angka penting ini! Gak hanya itu, bahkan dalam blog ini juga saya utarakan cara berpikir yang inspiratif, tapi kok malah wawasan saya sendiri cupet: perspektif tiga dunia yang tergambarkan dalam fresco sebuah gereja di Istanbul seolah saya lupakan. Saya tidak lupa, tetapi rupanya saya belum ngeh.

Tentu saja Yesus langsung naik ke surga pada saat menyerahkan nyawanya. Ia langsung diterima Allah: masuk dalam persekutuan dengan Allah. Loh, kan memang secara historis Yesus mati di salib, lalu bangkit pada hari ketiga (menurut hitungan orang Yahudi) dan kemudian menampakkan diri pada para murid dan orang-orang lain selama empat puluh hari? Gak mungkin dong dia naik ke surga sebelum penampakan kepada para murid itu!

Haha… ya itu masalahnya. Pertama, Kitab Suci bukanlah reportase wartawan dan bahasa yang dipakai juga bukan bahasa wartawan, melainkan ungkapan orang beriman yang berlatar belakang Yahudi dengan perspektif orang yang melihat Allah dalam diri Yesus yang bangkit. Jadi, kedua, mengapa juga orang mesti berpikir linear: mati dulu, njuk dua hari di makam, njuk setelah itu hahahihi nongol di depan orang, dan selama enam minggu main petak umpet ke sana ke mari. Lha emangnya Roh itu terkungkung ruang waktu po? Memangnya hidup persekutuan dengan Allah itu tak memungkinkan Roh Yesus menyentuh dimensi dunia sini po?

Saya teringat sohib saya yang saking takutnya pada arwah lantas menyiapkan belati di bawah bantal, kalau-kalau arwah itu menyerangnya! Saya kira justru di sinilah letak pesan kenaikan Tuhan. Pada saat Yesus menampakkan diri, para murid jelas berada dalam nuansa keraguan, ketakutan di hadapan ideologi dunia yang menilai kematian Yesus sebagai ketololan. Seluruh nilai dan keutamaan yang diucapkan dan dihidupi oleh Yesus itu hancur seiring dengan kematiannya. Dengan kata lain, dalam  hidup ini, rekayasa politiklah yang jauh lebih berarti daripada nilai-nilai yang diklaim luhur oleh orang beriman. Mentalitas yang disodorkan Yesus terbukti tak bertaji dan wajarlah para pengikutnya mengalami ketakutan: jangan-jangan benarlah kata para tokoh agama itu bahwa Yesus menghujat Allah dan sekarang kena tulahnya.

Yesus membantu para murid untuk mengerti: menjungkirbalikkan kriteria kesuksesan atas dasar Kitab Suci. Outputnya? Pengikut Kristus mesti mempersaksikan kriteria Kristus itu dengan warta tobat dan pengampunan. Tanpa keduanya, para murid tidak move on dari mantan, maunya nempel aja terus, memberhalakan Yesus, mendewakan masa lalu.

Ya Tuhan, semoga kami cermat menjungkirbalikkan perspektif usang kami dengan cara pandang-Mu. Amin.


HARI RAYA KENAIKAN TUHAN C/2
5 Mei 2016

Kis 1,1-11
Ef 1,17-23
Luk 24,46-53

Posting Kenaikan Tuhan B/1 2015: Korban Mei ’98 Naik ke Surga
Posting Kenaikan Tuhan A/2 2014: Kenaikan Tuhan Menuntut Keterlibatan