Butuh Teman…

It’s only with the heart that one can see rightly; what is essential is invisible to the eye. Begitulah terjemahan ungkapan Antoine de Saint-Exupéry dan ungkapan itu saya kira jadi benang merah bagi timbunan kata dalam blog ini. Ngalor-ngidul ke sana kemari, bikin orang puyeng, sebetulnya ya cuma mau bilang seperti yang dikatakan penyair Prancis itu.

Yesus realistis. Dia mengakui bahwa pada dasarnya masih mau omong lebih banyak lagi. Maklum, sudah tahu bakal berpisah, selagi masih ada waktu dalam perjamuan malam terakhir itu, maunya memberi macam-macam wejangan. Akan tetapi, ya itu, Yesus realistis. Gak semua yang diomongkan toh bisa dipahami oleh murid-muridnya sendiri, apalagi peristiwa kematiannya ya belum terjadi. Tak ada term of reference jadi susah mau mengertinya juga. Kelak Rohlah yang perlahan-lahan membuka pintu hati para murid itu sehingga mereka ngeh terhadap kata-kata guru mereka. Begitu ngeh, gurunya dah gak ada. Kasiaaan….

Tapi ya gak apa. Untuk apa juga Yesus si sableng dari Nazaret itu mesti hidup seribu atau dua ribu tahun? Mau narsis liat patungnya ada di mana-mana? Mau keplok-keplok menyaksikan Leicester City jadi juara Premier League? Mau meratapi nasib tragis Yuyun dan mengutuki 14 anak yang memperkosanya? Mau memantau pembebasan sandera Abu Sayyaf? Ah, banyak maunya. Lebih bagus Yesus mati, lalu malah murid-muridnya jadi ngerti ngapain sih kita ini hidup di dunia yang amburadul begini!

Sikap realistis Yesus itu mengantar kita pada pemahaman bahwa iman pun, seperti cinta atau persahabatan, dipupuk dalam keseharian hidup yang serba biasa. Ini diamini oleh banyak orang dengan kata-kata, tetapi tak diimani dalam tindakan. Orang mengira beriman itu sekali jadi, atau kalau tidak sekali jadi ya dua tiga kali tapi terus linear, semakin lama semakin dalam atau semakin tinggi. Bisa jadi orang berpikir kalau mengalami langsung hidup fisik bersama Yesus imannya akan semakin kuat. Tentu saja mbel gedhes wong para murid saja nyatanya juga gak serta merta beriman. Ya itu tadi, yang dibilang Antoine de Saint-Exupéry. Esensi iman, cinta, persahabatan, tak terlihat oleh bola mata, seindah apapun warnanya dan selentik apapun bulunya.

Syukur bahwa Yesus realistis dan membiarkan kelak Roh Kudus sendiri yang akan membuka pintu hati para muridnya. Ini mengingatkan juga pada kenyataan bahwa orang butuh keterbukaan pada rahmat, pada Roh Kudus untuk memupuk imannya. Keterbukaan macam ini jauh lebih unggul daripada kontak fisik seintim apapun untuk menggapai kepenuhan iman. Kalimat ini sederhana (dan mungkin tak terpahami) tetapi implikasinya kompleks: orang tak bisa mengklaim diri beriman hanya karena aneka bukti fisik dari sains. Di internet ini beredar aneka macam informasi yang bunyinya kurang lebih: penelitian ilmuwan membenarkan Kitab Suci. Njuk ngopo?

Yesus tidak melihat urgensi sistematisasi argumen untuk memuaskan kehausan kognitif para muridnya (kalau punya) terhadap hidup beriman. Ia justru mau menunjukkan pentingnya kerja sama dengan Roh Kebenaran itu yang bekerja melalui semesta tanpa bisa dikungkung oleh semesta sendiri.

Tuhan, mohon rahmat ketekunan supaya kami setia pada jalan-Mu. Amin.


RABU PASKA VI
4 Mei 2016

Kis 17,15.22-18,1
Yoh 16,12-15

Posting Tahun 2015: Roh Kudus Juru Blusuk
Posting Tahun 2014: Berhala Itu Bernama…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s