Roh Kudus Juru Blusuk

Ada orang yang secara keliru berpikir bahwa asal sudah masuk agama tertentu, status keselamatan mereka terjamin. Orang Kristen apalagi, asal percaya saja kepada Yesus Kristus, mereka diselamatkan. Orang lupa bahwa agama bukan melulu organisasi sosial dengan aneka kontraknya. Percaya kepada Yesus Kristus juga tidak selesai dengan mengucapkan syahadat, tetapi terus memberi isi terhadap kepercayaan itu melalui cara hidup konkret. Dengan kata lain, iman itu perlu diwujudkan, tidak cukup diungkapkan (dengan kata-kata atau organisasi formal). Seperti persahabatan dan cinta, iman takkan berkembang atau berakar mendalam jika tak dipupuk, tak dibudidayakan.

Yesus mengingatkan bahwa iman dibudidayakan dengan aneka ‘penemuan’: tentang Allah dan tentang diri kita sendiri. Yesus mengatakan bahwa aneka penemuan itu tak bisa sekaligus diberikan kepada para rasulnya. Tak mungkin juga orang begitu dibaptis langsung tahu segala-galanya tentang Allah maupun diri sendiri. Pengetahuan akan kebenaran itu diberikan oleh Yesus secara bertahap, seturut kemampuan orang untuk memahaminya juga. Budi daya jadi relevan di situ. Contohnya ada pada bacaan pertama. Paulus mengakrabi kultur kota Athena yang tak mengenal konsep monoteisme dan ia justru bisa membuka budi orang-orang Athena terhadap Allah yang esa yang tak mereka kenal.

Paulus pasti tidak mendapat seluruh pengetahuan mengenai Yesus Kristus pada saat ia terjatuh dari kudanya di dekat Damaskus. Ia mendapat pengenalan akan Yesus Kristus lewat orang lain: Ananias dan para rasul. Artinya, Paulus memiliki keterbukaan kepada pengajaran orang lain, yaitu para rasul. Ia pun menerima kepemimpinan para rasul dan bersedia berdiskusi dalam sidang ketika muncul persoalan dalam penafsiran atas iman yang baru, yang tidak terbelenggu oleh kultur Yahudi.

Siapa yang memungkinkan keterbukaan Paulus dan orang-orang lain yang menerima pewartaan baru saat mereka sangat getol dengan keyakinan politeisme? Siapa lagi kalau bukan Roh Kudus sendiri? Sudah dikatakan Yesus: kita perlu Roh Kudus yang menuntun kita ke dalam kepenuhan kebenaran. Tak seorang pun dari kita punya pengalaman historis manusiawi dengan Yesus, akan tetapi Roh Kudus yang blusukan ke setiap hati manusia itu memungkinkan setiap orang punya pengalaman personal dengan pribadi Yesus Kristus itu. Untuk itu, sebagaimana Paulus mengalaminya: diperlukan keakraban dengan Sang Sabda, melalui Kitab Suci, melalui penegasan atau diskusi bersama orang-orang lain yang sudah terlebih dahulu memiliki pengalaman personal dengan Kristus.

Mau memikirkan Tuhan sampai botak (mungkin Paulus botak gara-gara itu)? Silakan. Akan tetapi, pengenalan akan Allah tak mungkin ditempuh hanya dengan pikiran. Orang perlu menimba inspirasi Roh Kudus dari perjumpaan dengan agama lain maupun teks Kitab Suci sendiri. Being religious nowadays is being interreligious, dan kalau umat beriman tak akrab dengan Kitab Sucinya sendiri, bicara Roh Kudus itu juga tak tertangkap secara penuh.


RABU PASKA VI
13 Mei 2015

Kis 17,15.22-18,1
Yoh 16,12-15

Posting Tahun Lalu: Berhala Itu Bernama…