Perpisahan Mendewasakan

Apa jadinya kalau Yesus Kristus, besok Kamis, sekian ribu tahun yang lalu tidak naik ke Surga? Ia bisa terus menerus demonstrasi bilokasi, trilokasi, atau malah kuartolokasi (atau foliolokasi sekalian)! Kemampuan multilokasi ini konon juga dimiliki sedikit orang di dunia ini: orang-orang kudus, dan kaum sufi muslim. Orang-orang mestilah terperangah mengetahui hal itu dan mereka mengandalkan Yesus Kristus yang demo multilokasi itu untuk memercayai kepercayaan mereka kepada Allah yang bisa membangkitkan orang mati. Kalau begitu, para rasul pun setiap kali njagakke Yesus Kristus yang bisa nongol di sana sini itu untuk memberi pengajaran iman kepada banyak orang lain. Lha, kalau sepanjang segala abad pengikut Kristus itu njagakke Yesus Kristus, njuk kapan majunya? Dikit-dikit minta Yesus Kristus yang menangani. Dikit-dikit lari kepada Yesus Kristus supaya masalah selesai.

Protagonis hari-hari ini memang Roh Kudus. Yesus Kristus yang selama beberapa minggu setelah kebangkitan menampakkan diri di sana sini akhirnya menyampaikan rencana kepergian-Nya kembali kepada Bapa di surga. Ini menimbulkan kesedihan untuk kedua kalinya setelah pengalaman buruk mereka pasca wafat Yesus. Bagaimana mereka nanti bisa mewartakan kabar gembira itu tanpa Yesus Kristus yang bisa multilokasi ini? Bagaimana mereka bisa membuktikan pewartaan mereka kalau Yesus Kristus sendiri tak ada bersama mereka?

Yesus Kristus punya kaca mata pandang yang berbeda: justru karena Yesus Kristus pergi (dan dengan demikian punya alasan untuk mengutus Roh Kudus), para murid diberdayakan tanpa sikap kekanak-kanakan untuk setiap kali menggantungkan pewartaan mereka pada bukti-bukti macam multilokasi itu tadi. Justru kalau Yesus Kristus pergi, para murid berpeluang mendewasakan iman mereka, memupuk keberanian, membangun harapan, dan merealisasikan cinta sejati. Paulus dan Silas dipenjara dan karena gempa bumi mereka sungguh leluasa untuk pergi dan penjaga penjara sudah sedemikian frustrasi dengan situasi itu dan hendak bunuh diri, tetapi Paulus dan Silas malah membantunya untuk meletakkan kepercayaan kepada Allah sendiri. Mereka tidak melarikan diri.

Mandiri tak berarti menyingkirkan peran Allah, tetapi justru berani berjuang hidup dan meletakkan pergumulan manusiawi dalam dinamika relasi dengan Allah: semakin hidup dalam harapan, iman, dan cinta.


SELASA PASKA VI
12 Mei 2015

Kis 16,22-34
Yoh 16,5-11

Posting Tahun Lalu: Sakit Boleh, Menderita Jangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s