Berhala Itu Bernama…

Bacaan liturgi hari-hari ini mencuplik wacana Yesus mengenai Roh Penghibur sebelum esok hari Yesus naik ke surga, menyusul peringatan Israj Miraj (entah duluan siapa sampainya ke surga). De facto, pribadi ketiga dari Allah Tritunggal inilah yang paling mungkin diakses oleh  orang zaman sekarang ini, karena itulah yang dicurahkan Kristus kepada para rasul dan diteruskan kepada generasi pengikut Kristus sesudahnya sampai generasi sekarang ini.

Gerak Roh Kudus mendorong Paulus pergi ke wilayah yang masih akrab dengan politeisme: Athena. Penduduk Athena mengakui ada dewa yang mereka tak tahu perannya: dewa untuk kesuburan sudah ada, untuk langit sudah ada, untuk bisnis sudah ada, untuk percintaan dan keluarga juga sudah ada. Secara cerdas Paulus melihat celah yang bisa menjadi jalan masuk pewartaannya itu. Ia tidak menghancurkan patung berhala mereka tetapi menjelaskan apa yang selama ini mereka tidak kenal padahal memberi dampak yang paling besar dalam hidup manusia. Itu yang sekarang dikenal sebagai upaya inkulturasi: mewartakan Roh dalam budaya yang menuntun orang pada Allah yang memberi hidup.

Sayangnya, seperti sebagian orang Yahudi, mereka pun tidak mau percaya adanya kebangkitan orang mati. Maka, sebagian besar penduduk Athena tidak menerima pewartaan Paulus. Inkulturasi tidak berhasil dan masyarakat tetap bertahan dengan berhala-berhala yang mereka pelihara sejak lama. Memang ada yang bertobat, tetapi hanya sedikit sekali.

Dewasa ini, orang sadar bahwa politeisme tak layak dipertahankan. Jadi, wujud berhala seperti yang dihidupi agama primitif barangkali sudah punah. Akan tetapi, esensi berhala sendiri tidak akan punah! Mengapa? Karena yang menjadikan sesuatu sebagai berhala ialah sikap batin manusia sendiri. Jika ia menatap ciptaannya sedemikian rupa sehingga ciptaan itu menjadi segala-galanya seperti Allah, ciptaan itu menjadi berhala. Setiap generasi, bahkan setiap individu memiliki berhalanya sendiri-sendiri yang menghambat pertobatannya.

Salah satu berhala yang tanpa sengaja dipopulerkan bersamaan dengan bulan Maria ini adalah berhala keseragaman dalam liturgi. Umat sederhana yang tak pernah mengenyam studi teologi tentulah disibukkan dengan pertanyaan seperti: bolehkah menerima Tubuh Kristus dari prodiakon atau romo yang saya tidak suka, apakah sah menerima Tubuh Kristus padahal baru datang setelah persembahan, apakah imam boleh memberi salam damai kepada umat, apakah diperkenankan menerima dua rupa Tubuh Kristus dalam ekaristi biasa, apakah umat boleh mengambil Tubuh Kristus sendiri, dan aneka macam pertanyaan lainnya yang orientasinya adalah boleh dan tidak boleh.

rambu-larangan1 in senkom kota tasikMengerikan juga jika hidup beriman seseorang ditentukan oleh aturan belaka. Iman tidak lagi dihayati sebagai relasi personal, melainkan sebagai rangkaian pelaksanaan aturan: sesuai Roma atau tidak, cocok dengan ketentuan Tim Liturgi atau tidak. Aturan formal pun dengan demikian menjadi berhala dan orang mengalami stagnasi dalam imannya.

Kapan orang terbebas dari berhala? Yesus contohnya. Bukan pertama-tama soal membangkang aturan agama, melainkan soal pertama-tama melihat mana yang membawa manusia pada relasi dengan Allah. Selebihnya, aturan perlu dilihat sebagai pedoman, bukan sebagai penentu hadir tidaknya Allah!

Saya teringat pada pertentangan Madah Bakti dan Puji Syukur yang menimbulkan kebingungan di sana-sini. Ketentuan memang diperlukan, pedoman jelas dibutuhkan, tetapi tidak bisa disangkal bahwa keputusan dalam level institusi bisa juga disusupi oleh kepentingan politis pihak-pihak tertentu. Kepentingan ini yang jarang dilihat oleh umat yang orientasinya adalah keseragaman, kembali ke masa lampau dengan misa bahasa Latin, dan tidak pernah mau membuka hati pada gerakan Roh!


RABU PASKA VI

Kis 17,15.22-18,1
Yoh 16,12-15

5 replies

    • Terima kasih berkenan mampir, Ibu/Bpk/Mbak/Mas Coemi…
      Aturan yang dibuat manusia itu menurut saya ya rambu. Kalau orang naik gunung yang belum pernah didakinya dan ia menandai jalan berangkat dengan aneka rambu setiap lima meter (wah bakal berapa byk rambu yo), sewaktu turun, bisa saja ia mengambil jalan yang tidak diberi rambu karena ia punya perspektif berbeda dari atas… mungkin ia masih bisa melihat rambu yang dipasangnya sewaktu berangkat, tetapi ia tidak harus melalui wilayah yang ada rambunya itu pada titik tertentu…
      Saya kira, orang beriman tak perlu merasa terkekang oleh aturan. Yang penting adalah orang tahu maksud-tujuan aturan itu dan kemudian bisa membedakan mana yang pokok dan mana yang sifatnya situasional. Yesus saya kira menunjukkan poin itu ketika ia menjawab pertanyaan mengenai hukum yg terutama. Ia tidak mengambil satu dari sepuluh perintah Allah, ia menangkap Roh dari sepuluh perintah Allah. Maka dari itu ia tidak sibuk dng aturan roti persembahan hanya boleh dimakan oleh imam atau memetik gandum pada hari sabat…
      Semoga saya menjawab pertanyaan Ibu/Bpk/Mbak/Mas Coemi. Salam.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s