“Pusing” The Limit

Dalam tradisi Gereja Katolik ada hal yang sebetulnya rada bikin miris berkenaan dengan relikwi (peninggalan berupa bagian tubuh atau pakaian orang-orang suci). Mirisnya kenapa? Karena ada nuansa mutilasi! Kepalanya disimpan di mana, kelingkingnya di mana, tidak jadi satu. Biasanya relikwi ini disisipkan di altar, tempat imam mencium altar itu loh.

Santo Filipus dan Yakobus yang dipestakan hari ini juga punya relikwi menarik yang ada di gereja Paroki Dua Belas Rasul Suci (Santi XII Apostoli), di dekat kampus Institut Biblicum dan Universitas Gregoriana di Roma: kaki Filipus dan bagian bawah lutut Yakobus. Tentu bukan tanpa alasan bahwa bagian tubuh itu yang ditransfer ke sana, dan saya kira alasannya berkenaan juga dengan teks Injil hari ini: Filipus, sohib Yakobus (yang bukan saudara Yohanes), melontarkan wacana jalan pintas untuk melanjutkan pertanyaan Tomas kepada Yesus tentang jalan yang mesti mereka tempuh. Ini sudah diulas sepuluh hari lalu pada link ini.

Kaki berfungsi untuk menopang tubuh dan berjalan. Dalam konteks pertanyaan Tomas dan Filipus, kaki ini bisa diasosiasikan dengan instrumen untuk berjalan, mengikuti Yesus yang telah lebih dulu menemukan jalan, dan lebih dari itu, dialah jalan itu sehingga kaki para pengikutnya secara simbolik bisa dipahami sebagai kesediaan untuk mengikuti jejak Yesus. Ini adalah mekanisme batiniah pengikut Yesus: semakin mengenalnya dan mengikuti jejaknya.

Nah, bagian kaki yang di bawah lutut itu dalam bahasa Itali disebut gamba, dan ada ungkapan populer in gamba, yang berarti very capable, on top of things! Orang disebut in gamba jika dia menunjukkan potensi terbaiknya. Artinya, potensi itu ditampakkan ke luar, bukan hanya dipendam sebagai potensi dalam dirinya.

Kalau begitu, dua relikwi itu bisa membantu orang untuk ingat akan dua sasaran: ke dalam untuk mengikuti jejak Kristus, membina relasi intim dengan-Nya, dan ke luar mewartakan buah relasi intim itu. Dua sasaran ini takkan pernah berhenti pada satu titik dalam kehidupan. Orang beriman senantiasa dipanggil untuk pushing the limits. Tahu sendirilah, kalau limit itu dipush, bisa jadi lama-lama pusing sendiri karena batas itu senantiasa menjauh.

Ini jelas bukan upaya eksploitasi diri dengan target yang terus menanjak. Melampaui batas, berarti orang melihat di balik batas, dan kalau perlu menghancurkan batas yang bikin mampet perkembangan hidup orang beriman. Kalau dulu orang berlomba-lomba menyebarkan agama melampaui batas geografis, dan sekarang ini hampir seluruh titik terambah oleh agama, sudah saatnya agama beranjak dari batas geografis. Mungkin perlu merombak batas dogmatismenya sendiri untuk menyentuh siapa saja yang memerlukan sentuhan pembebasan.

Alih-alih sibuk dengan kekakuan ritual, sudah sewajarnya agama menyinarkan pesan universal untuk membangun tatanan hidup bersama yang lebih baik. Alih-alih menutupi akibat kerapuhannya, jauh lebih simpatik jika agama mengakui keterbatasannya dan bersama agama lain membangun jalan-jalan Tuhan, bukan malah memperkeras jalan-jalan agama. Ini soal proses tiada henti, bukan soal hasil yang bisa basi. Ini soal hidup manusiawi sebagai suatu jalan, bukan tujuan.

Tuhan, bantulah kami menghayati hidup sebagai peziarah yang senantiasa terbuka pada jalan-jalan-Mu. Amin.


(Selasa Paska VI)
PESTA SANTO FILIPUS DAN YAKOBUS
3 Mei 2016

1Kor 15,1-8
Yoh 14,6-14

Posting Tahun 2014: Kenalan Dong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s