Terpaksa Sekolah?

Beberapa kali saya mendapat feedback positif bahwa pembaca mendapat inspirasi setelah membaca refleksi yang saya letakkan dalam blog ini. Ketika feedback itu bermetamorfosa sebagai pujian, saya langsung alert: saya sungguh bersyukur kalau refleksi yang saya tulis ini bermanfaat, tetapi inspirasi tidak berasal dari (tulisan) saya. Ini sama sekali bukan trik untuk dianggap rendah hati (merendahkan diri menaikkan mutu)! [Apa untungnya juga dianggap rendah hati?]

Gampang aja membuktikannya: bagi orang yang satu, tulisan saya diterima inspiratif, bagi yang lain membingungkan. Jadi, mesti ada agen lain yang membuat tulisan itu entah inspiratif atau membingungkan. Tentu, persoalannya gak sesepele itu, tetapi pada prinsipnya sumber inspirasi bukanlah (tulisan) saya, melainkan Roh Kudus. Roh ini bukan agen intelijen yang nganggur, melainkan agen aktif yang senantiasa waspada terhadap gerakan batin orang. Saingannya kadang disebut orang sebagai roh kuda, tetapi saya lebih suka menyebutnya sebagai roh kudu: kudu ginikudu gitu… [Roh Kudus tidak bekerja dengan paradigma ‘harus’, bahkan meskipun de facto ada unsur kewajiban orang untuk melakukan sesuatu. Roh Kudus tidak koruptif, jadi tak perlu dihilangkan ‘s’-nya… halah utak-atik gathuk.]

Saya tak tahu mengapa paracletus (baca: parakletus) diterjemahkan penghibur yang jelas dengan mudah akan diasosiasikan dengan orang yang bersedih butuh penghiburan. Barangkali kata penolong lebih tepat, tetapi pokoknya itulah Roh yang dijanjikan Yesus dalam teks Injil hari ini. Ini adalah Roh yang bisa jadi pembela iman seseorang yang mengalami aneka goncangan, pengejaran, penghakiman. Roh inilah yang juga memberi inspirasi bagi para pembaca dengan cara-Nya sendiri. “Roh kudu’ tidak memberi inspirasi, melainkan depresi, pressure yang sebetulnya gak perlu.

Lah kok di bacaan pertama itu ada aroma pressure ya? Lydia mendesak Paulus dan Silas untuk singgah di tempatnya. Ia mendesak sampai mereka menerima (desakannya). Apa Paulus dan Silas mengalami pressure? Saya ragu bahwa mereka terpaksa. Barangkali tak ada hal lain yang lebih urgent dibuat Paulus dan Silas selain singgah di tempat Lydia untuk membuat ‘prospek’ pewartaan kabar gembira di situ. Seperti yang sudah-sudah, Paulus dan Silas mengambil keputusan bukan dengan pijakan situasi di luar. Sebaliknya, mereka menanggapi situasi, tawaran dari luar atas dasar relasi intim mereka dengan Roh Kudus sendiri.

Itu tentu dua hal yang berbeda. Yang satu, situasi keterpaksaan, terdesak, dan tak ada ruang kebebasan untuk memberi tanggapan. Yang kedua, memang ada situasi yang mendesak, tetapi kebebasan tidak hilang dan Roh Kudus bekerja di ruang kebebasan orang itu untuk memberi tanggapan terhadap desakan situasi. Itulah ‘gunanya’ Roh penolong, Roh pembela tadi. Kerap kali orang kehilangan ruang kebebasan, bahkan juga dalam institusi pendidikan yang semestinya membebaskan manusia dari keterkungkungan ‘roh kudu’ itu.

Semoga kita bekerja sama dengan Roh Kudus dalam ruang yang membebaskan. Amin.


SENIN PASKA VI
Peringatan Wajib St. Atanasius
2 Mei 2016

Kis 16,11-15
Yoh 15,26-16,4a

Posting Tahun 2015: “Maling” Tuhan
Posting Tahun 2014: Beriman tapi Gembira

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s