Salam Lebay

Saya bukan orang Arab tetapi saya jauh lebih senang ungkapan as-salāmuʿalaykum daripada salam lebay yang kerap disodorkan dalam forum-forum formal di negeri ini: salam sejahtera atau syalom. Loh, gimana toh Romo ini? Itu kan justru lebih biblis, lebih Kristiani, bahkan salam sejahtera itu juga disodorkan pada bacaan Injil hari ini? Kok seenaknya bilang itu salam lebay?

Jujur aja ya. Kita tahu arti Allāhu akbar: Allah mahabesar. Kita juga tahu arti as-salāmuʿalaykum. Dua ungkapan itu sangat baik, tetapi pernahkah Anda dapati orang menyiksa atau membunuh orang lain dengan teriakan as-salāmuʿalaykum? Kecil kemungkinan bahwa ‘damai besertamu’ itu diungkapkan untuk tujuan yang bertentangan dengan kedamaian itu sendiri. Ungkapan Allāhu akbar lebih rentan dilecehkan, sebagaimana kata cinta juga di mana-mana dilecehkan: atas nama Allah, alih-alih mengajak orang untuk melihat kebesaran Allah, orang malah membunuh, mencabut nyawa, memperkosa, memanipulasi, menghakimi, dan sebagainya. Ungkapan Allāhu akbar bisa jadi menakutkan untuk sebagian orang.

Njuk apa hubungannya dengan ungkapan syalom atau salam sejahtera je, Rom? Ya gak ada sih, haha… Saya cuma bingung aja kalau diberi salam dengan salam sejahtera atau syalom: gimana mbalesnya gituloh! Wagu rasanya kalau diberi ‘salam sejahtera’ njuk kita teriakkan kata yang sama ‘salam sejahtera juga!’. Ini perasaan subjektif memang: wagu, kurang genep. Nah, kalau ungkapan syalom? Itu kan bisa juga dibalas dengan syalom? Tentu bisa, seperti orang membalas sapaan ‘selamat pagi’ atau ‘ciao‘ dengan ungkapan yang sama. Lama kelamaan, syalom ya cuma jadi contoh konkret formalisme: ungkapannya makin populer, tetapi isinya hilang.

Coba jujur ya, kapan Anda jumpai kata syalom itu dikumandangkan, saat perjumpaan antarpribadi atau saat acara formal? Dalam suasana macam apa, suasana hiruk pikuk meriah atau suasana hening reflektif?

Saya jujur, saya benar-benar tak tersentuh oleh kata syalom itu, baik secara kognitif maupun afektif. Artinya, kata itu tak berbunyi, tak bergema dalam batin saya saat saya mendengarnya diucapkan orang. Itu baru berbunyi buat saya saat diucapkan oleh Yesus, seperti disodorkan teks hari ini (dan kadang diulang-ulang dalam misa): Damai sejahtera kutinggalkan bagimu. Damai sejahteraku kuberikan kepadamu. Sori, ini bukan basa-basi: kata-kata itu bernas bukan karena rumusannya membuat kita bilang ‘wow’, melainkan karena pribadi yang mengucapkannya adalah pribadi yang ‘wow‘.

Damai yang diberikan Yesus bukan damai yang diberikan dunia: kompromi gencatan senjata atau toleransi semu bernuansa politis. Ini adalah damai yang tersirat dalam bentuk imperatif: Janganlah gelisah dan gentar hatimu! Kita ingat peristiwa para murid yang galau saat angin ribut mengguncang perahu dan Yesus datang membahas topik yang sama: jangan takut. Orang kira problemnya ada di luar sana: bencana, jalanan macet, narkoba merajalela, pergaulan tak sehat, perang, bocah ndableg, orang tua otoriter, dan sebagainya.

Pokok persoalannya bukan bahwa yang di luar sana itu benar-benar menakutkan, melainkan bahwa yang di dalam sini tak sungguh terpaut dengan Sang Sumber Hidup, gak ngerti mau ngapain! Orang cuma menyalahkan orang lain atau situasi (ada contohnya di link sini) karena di kedalaman batinnya tak ada kehidupan, cinta, damai, kebahagiaan sejati. (Semoga) Tuhan beserta kita. Sekarang dan selama-lamanya.


HARI MINGGU PASKA VI C/2
1 Mei 2016

Kis 15,1-2.22-29
Why 21,10-14.22-23
Yoh 14,23-29

Posting Minggu Paska VI B/1 2015: Cinta Mati nan Menghidupkan
Posting Minggu Paska VI A/2 2014: Haji Heribertus

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s