Kaku-Kaku Lemes?

Sebagian besar pembaca blog ini, kalau survey Facebook tidak abal-abal dan penggunanya tak malu-malu mengakui umur terdekatnya, adalah mereka yang lahir di tahun 70-an sampai awal 90-an. Ini adalah kelompok orang yang nebeng kemudahan yang disodorkan oleh kemajuan teknologi informatika. Ada yang tergopoh-gopoh dalam nebeng di situ karena gaptek, kudet, atau pun katro, tapi ada yang cukup lanyah (lancar ngunyah?) dengan teknologi itu karena punya modal sebagai quick learner.

Entah quick learner atau lemot, kita dikondisikan oleh teknologi yang bekerja dengan prinsip dasar sensitive case: kurang titik atau salah penempatan kapital saja sudah bisa bikin ancur. Orang mesti menata segala sesuatunya supaya hidup berjalan seperti direncanakan, seturut kaidah-kaidah umum yang berlaku bagi hidup manusia. Kalau gak mau iklim mengalami pemanasan global, ya hitung-hitung saja bagaimana supaya emisi yang diproduksi teknologi itu tidak mendongkrak pemanasan global itu dan jalankan secara konsekuen. Kalau gak mau ada ledakan penduduk, ya buat saja program pengendalian yang masuk nalar dan jalankan secara konsekuen. Dibutuhkan kepastian hukum, tentu saja. Pokoknya, semua problem bisa dipecahkan dengan rangkaian tindakan terukur.

Akan tetapi, yang namanya hidup manusia itu ya bola-bali misteri, dan misteri gak bisa dihadapi semata dengan perencanaan sistematis ini itu. Memang sih bisa jadi ada ironi di sini. Rencana sistematis itu malah umumnya berhasil jika tujuannya manipulatif: pembunuhan massal, pembunuhan terencana, kudeta. Faktor kegagalan rencana sistematis macam ini biasanya ada pada pelakunya sendiri: ceroboh, kudet, sembrono. Contohnya kelompok teroris yang salah menekan tombol. Tentu saja, bisa jadi juga itu sudah diperhitungkan sebagai risiko seperti gembong narkoba yang mengorbankan anak kecil sebagai kurir. Barangnya tak sampai, tetapi barang-tak-sampai itu juga sudah masuk dalam perhitungan sehingga tak masuk dalam hitungan kegagalan, tetapi jadi bagian dari biaya yang diperlukan.

Jika tujuan itu tak manipulatif, biasanya orang tak perlu sedemikian kaku dengan rencana sistematisnya karena itu justru menghambat tindakan komunikatif. Akan tetapi, ini tak berarti bahwa orang tak perlu peduli dengan rencana sistematis. Itu sih waton suloyo alias modal asal debat kusir doang. Pesannya di sini ialah rencana sistematis itu tak perlu dipegang secara kaku sebagaimana prosedur teknologi informatika tadi. Hidup ini bukan hitungan matematika belaka.

Paulus yang ada di Troas mengubah perjalanannya karena vision yang dia terima, yang mengundangnya pergi menyeberang ke Makedonia. Saya tak tahu itinerary plan Paulus, tetapi juga dari perjalanan sebelumnya, Paulus mempertimbangkan vision dalam batinnya, yang tak selalu cocok dengan kecenderungan manusiawinya. Ia maunya pergi ke Asia, tetapi panggilan batinnya mengatakan tidak. Ini bukan soal Paulus serampangan, melainkan justru ia mendengarkan gerakan batin; hal yang tak mudah digapai untuk generasi sekarang: kalau gak jatuh ke yang kaku, ya jadi anarkis; kalau gak jatuh pada ekstrem kesalehan pribadi, ya jadi aktivis meriah; kalau gak konservatif, ya jadinya liberal sesuka hatinya sendiri.

Yesus sudah jauh-jauh hari berpesan, bahkan meskipun orang tidak liberal sesuka hatinya dan sungguh mendengarkan Sabda Allah, ia toh tetap akan dibenci dunia.

Tuhan, semoga kami semakin mampu mendengarkan suara Roh-Mu dalam batin kami. Amin.


SABTU PASKA V
30 April 2016

Kis 16,1-10
Yoh 15,18-21

Posting Tahun 2015: Seluruh Dunia Setuju Hukuman Mati
Posting Tahun 2014: Spiritual Being Having Human Experience

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s