Asal Bapak Senang

Insight hari ini diawali langsung dengan kutipan teks Yohanes: Inilah perintahku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti aku telah mengasihi kamu. Kemarin sudah disodorkan pengertian bahwa perintah untuk mencinta ini tak cukup dimengerti melulu sebagai kewajiban karena cara penghayatan itu tidak mengantar orang pada kegembiraan yang utuh. Harus ada dalam diri orang passion untuk mencinta tanpa bergantung pada variabel di luar dirinya (hasil, ganjaran, hukuman, dan lain sebagainya).

Hari ini saya terbentur kata hubung ‘seperti’ karena soal teknis: Bagaimana kita bisa saling mengasihi seperti Yesus mencinta? Kata hubung ‘seperti’ memang berfungsi untuk menyatakan perbandingan. Maka, kalau Yesus memberi perintah supaya orang saling mengasihi seperti Yesus mengasihi para muridnya, itu menggiring orang pada pertanyaan bagaimana Yesus mencintai murid-muridnya. Syukurlah kalau yang membaca perintah itu punya bekal cukup untuk mengerti bukan hanya secara literal: ia bisa mengerti bahwa persoalannya lebih dari sekadar saling membasuh kaki dan saling memberikan nyawa. Akan tetapi, orang tetap bisa buntu dalam pencarian: njuk kayak gimana mencinta seperti Yesus mencinta itu kalau ini bukan, itu juga bukan?

Ini katanya lho ya, kathòs dalam bahasa Yunani di situ (mirip dengan tembung Jawa loh: kados) selain menyatakan perbandingan juga menunjukkan landasan bagi para murid untuk saling mengasihi. Maksude opo Mo dari tadi belon nangkep ini mau omong apa.

Sudah lupa teks dua minggu lalu, kan, sewaktu dibahas perbedaan roti dari langit pada zaman Musa dan analogi Yesus sebagai roti hidup? Tak perlu merasa bersalah kalau lupa. Tapi, kalau lupa teks dua hari lalu tentang pokok anggur, silakan merasa diri tua atau mengaku diri malas baca teks Kitab Sucinya (maunya dikunyahkan dulu). Teks itu berguna untuk mengerti kata hubung kathòs di sini.

Andaikanlah batang dan akar itu bisa dianalogikan sebagai Yesus dan Allah Bapanya, sedangkan ranting dan buahnya itu dianalogikan dengan para murid dan karya mereka. Maka, masuk akallah bahwa seperti Allah mengasihi Yesus, demikian juga Yesus mengasihi murid-muridnya, dan wajarlah Yesus memberi perintah supaya para murid mencinta seperti Yesus mencintai mereka: sari makanan itu datang dari akar, diteruskan oleh batang kepada ranting-rantingnya yang kelak bisa menghasilkan buah. Sari makanan itu adalah Sabda Allah sendiri.

Maka, mencintai seperti Yesus mengasihi tidak lain daripada mendengarkan Sabda Allah itu dan menggemakannya; contoh ekstremnya adalah pengalaman dengan Ahong. Contoh sehari-harinya ialah apa yang dibuat oleh St. Katarina dari Siena, yang ikut berupaya supaya Paus pada masa gelap hubungan Gereja Katolik dan politik Eropa abad XIV kembali ke Roma. Ini contoh orang yang tak terserap oleh klerikalisme, yang dikritik Paus beberapa saat lalu. Katarina dari Siena membaca situasi, mendengarkan gerak Roh, dan mengambil aksi tanpa dikungkung oleh kompleks rendah diri yang menempatkan klerus sebagai pusat kebenaran.

Kebenaran itu ada dalam Roh, dan Dia tak hanya tinggal dalam diri klerus. Maka sewajarnya awam dan klerus berdialog menangkap suara Roh, alih-alih menempatkan pastor dan hirarki sebagai pusat acuan asal-bapak-senang atau juga asal-aku-senang.

Tuhan, semoga kami semakin peka terhadap Roh-Mu. Amin.


JUMAT PASKA V
Peringatan Wajib St. Katarina dari Siena
29 April 2016

Kis 15,22-31
Yoh 15,12-17

Posting Tahun 2015: Dalam Untung Rugi
Posting Tahun 2014: Receive in Giving

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s