Table Manner-nya Agama?

Sudah sejak beberapa tahun belakangan ini kita disodori aneka ungkapan lebay lewat media: jalan kaki dari Jakarta ke Jogja, terjun bebas dari Tugu Monas, potong kemaluan, iris kuping, dan mungkin aneka ungkapan lainnya yang luput dari perhatian saya. Mengapa lebay? Bukan karena halnya tak realistis, melainkan karena yang mengucapkannya adalah orang-orang yang tak punya integritas. Orang macam ini waton njeplak, omongan dulu dilontarkan dengan penuh keyakinan, pikiran belakangan (kalau punya). 

Apakah omongan Yesus dalam teks hari ini juga ungkapan lebay? Mosok jika kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darahnya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan dagingku dan minum darahku, ia mempunyai hidup yang kekal?

Untuk menilai apakah ungkapan itu lebay atau tidak, lihat saja apakah ungkapan itu realistis dilakukan: makan daging orang dan minum darah orang! Orang Yahudi tak sebarbar itu. Jadi, gak realistislah (bukan lebay) makan daging orang dan minum darahnya supaya hidup kekal. Kedua, lihat apakah ungkapan itu dilontarkan oleh orang yang punya integritas. Dalam pandangan Kristiani tentu saja Yesus ini pribadi yang punya integritas. Jadi tentunya yang dia katakan, itu juga yang dia lakukan. Ketiga, lihat juga apakah ada relasi antara ungkapan dan kenyataan hidup yang dialami orang yang melontarkan ungkapan itu: apa yang terjadi pada daging dan darahnya. Dagingnya terkoyak-koyak dan darahnya mengalir tercecer di sana sini.

Kalau begitu, ini bukan omongan lebay. Makan minum daging dan darah Anak Manusia adalah sebuah metafora. Akan tetapi, tak usah pula terburu-buru menghubungkannya dengan Ekaristi dalam Gereja Katolik ya (mentang-mentang ada makan minum tubuh dan darah). Kalau langsung ke sana, kita jatuh pada reduksionisme, kata yang lebih ilmiah sedikit daripada korupsi. Mungkin lebih fair jika ungkapan itu dipahami sebagai penerimaan personal atas pribadi Kristus dan karya-karya-Nya. Ini bisa dibuat oleh siapapun entah apapun agamanya: memandang-Nya dan percaya kepada-Nya (Yoh 6,40).

Sekali lagi, itu bukan soal bahwa orang harus beragama ini atau itu. Keseluruhan teks ini ada dalam undangan supaya orang percaya bahwa Allah hadir dalam dunia, juga melalui pribadi manusia. Bahwa orang percaya pada Kitab Suci ini atau inu tak masalah. Pokoknya menerima bahwa Allah itu tidak tinggal jauh di sana, lost contact dengan umat-Nya. Dia hadir dan karena juga hadir dalam diri manusia, siapapun mesti berdialog, bukan untuk menentukan siapa yang paling benar, melainkan untuk mencari bersama-sama jalan mana yang bisa ditempuh oleh setiap orang untuk masuk di kedalaman hidup kekal: yang Kristen semakin Kristiani (bukan semakin keroma-romaan atau keamerika-amerikaan), yang Muslim semakin Islami (bukan semakin kearab-araban).  

Dalam kebersamaan itulah setiap orang mesti mengupayakan integritas dan kejujuran supaya sepadan dengan panggilan pribadinya untuk mengikuti Kristus tadi: memberikan diri bagi dunia, bukannya mengeruk dunia untuk dirinya sendiri. Tak banyak gunanya getol dengan kultur keagamaan tetapi hidupnya jadi predator bagi sesama. Benarlah, orang yang tak ber-Tuhan tidak lebih berbahaya daripada orang yang jadi Tuhan (ya sebetulnya sih sama-sama tak ber-Tuhan, tapi yang kedua ini terlalu pede).

Ya Allah, berilah kami keberanian untuk jujur terhadap diri kami sendiri. Amin.


JUMAT PASKA III
15 April 2016

Kis 9,1-20
Yoh 6,52-59

Posting 2015: Ayo Cari Jalan Pulang
Posting 2014: Pertobatan Ananias dan Saulus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s