Mau Bisnis Penyembuhan?

Ini kisah dari dunia ‘lain’: para seminaris (anak-anak SMA yang katanya punya niat jadi imam dalam Gereja Katolik) berbondong-bondong ke depan kantor rektor untuk mengambil surat. Sebetulnya tiap angkatan punya petugas tetapi yang bukan petugas pun banyak juga yang ikut ke sana demi mendengar namanya disebut petugas yang menyortir surat. Ini tanda desire dalam diri seminaris terhadap intimitas relasi: betapa bahagianya jika mendapat sapaan dari luar ‘penjara suci’ itu. Lebih menggembirakan lagi tentu saja kalau orang yang berkirim surat itu juga tiba-tiba nongol di seminari untuk menemui seminaris itu!

Teks Injil hari ini, penghujung wacana roti, mau menegaskan kepada pembaca bahwa Yesus itu bukan tukang pos yang menyampaikan surat-surat dari Allah untuk manusia, yang menyuarakan kata-kata bijak seperti dilakukan Yohanes Pembaptis, melainkan yang diposkan oleh Allah kepada manusia. Dia memang medium, tetapi yang juga sekaligus message dari Allah. Kebanyakan orang tak bisa mengerti hal ini karena cenderung berpikir dalam terminologi kepemilikan: apa yang dia punya, yang bisa diberikan padaku; apa yang negara miliki, yang bisa kupakai sebagai warga negara; kemampuan apa yang dimiliki dosen yang akan diberikannya kepadaku; milik pacar yang mana yang bisa kumanfaatkan, dan sebagainya.

Ini semua adalah terminologi subjek-objek dalam relasi yang sudah umum dihidupi orang: mengobjekkan satu sama lain. Hasilnya ya tentu saja saling menilai, saling menghakimi, saling memanfaatkan: dia harus mendengarkan aku, dia harus menyediakan fasilitas untukku, dia harus tunduk pada keinginanku, pikiranku, logikaku. Celakanya, pola relasi ini mau diterapkan juga dalam hubungannya dengan keilahian. Hasilnya ya pasti membuat frustrasi.

Yesus dari Nazaret adalah roti, bukan sosok orang yang punya roti. Orang Kristen mungkin mengira paham dengan ungkapan ini, tetapi kenyataannya tak sedikit dari mereka yang begitu ngotot berusaha meyakinkan orang non-Kristen bahwa Yesus dari Nazaret adalah Allah. Ini bukan hanya lebay, melainkan juga ngawur. Para murid sendiri menangkap pernyataan diri Yesus sebagai roti hidup, roti surga, sudah sesuatu yang lebay: “Perkataan ini keras, siapa yang sangggup mendengarkannya?”

Ungkapan itu sebetulnya hanya menunjukkan kekurangpercayaan mereka, mungkin karena kepercayaan itu berkonsekuensi pada iman yang melibatkan seluruh hidup mereka. Ini terlalu berat. Maunya sih percaya, tapi untuk bergerak lebih jauh dalam iman kepada roti hidup itu rasanya seperti mustahil. Okelah berteman dengannya, tapi dari jauh saja. Okelah jadi muridnya, tapi sampai batas tertentu saja ya. Yesus menantang murid-muridnya,”Kalian mau pergi juga?” Yesus mempersilakan mereka juga untuk menolaknya, tetapi Petrus menjawab,”Mau pergi ke siapa lagi? Engkaulah Yang Kudus dari Allah.” Relasi dengan Yang Kudus itulah yang memungkinkan para rasul punya kuasa serupa. Dalam bacaan pertama dikisahkan Petrus menyembuhkan orang lumpuh (Eneas) dan menghidupkan orang mati (Dorkas).

Yang dibutuhkan orang sekarang (tidak selalu sama dengan yang dikejar orang) adalah relasi pribadi dengan Yang Kudus itu, tetapi tak sedikit yang memperlakukannya sebagai objek, komoditi, bisnis, kontrak politik, proselitisme, ideologi, dan sebagainya. Btw, saya geli melihat orang berkoar-koar menyembuhkan dalam nama Yesus di TV atau di tempat lain (kok gak ke rumah sakit wae).

Ya Tuhan, ajarilah kami menyelisik batin supaya dapat kami dengar panggilan-Mu bagi kami masing-masing. Amin.


SABTU PASKA III
16 April 2016

Kis 9,31-42
Yoh 6,60-69

Posting 2014: To Whom Shall We Go?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s