To Whom Shall We Go?

Easy come, easy go. Jauh sebelum George Strait mempopulerkan lagu ini, Yesus menghidupi kenyataan bahwa banyak orang bisa datang kepadanya dengan mudahnya karena aneka mukjizatnya, tetapi dari yang banyak itu banyak pula yang pergi ketika Sabda Yesus semakin ‘keras’, sulit dipahami, apalagi susah diterapkan. Pengikut Yesus yang setipe dengan orang banyak ini adalah penggembira yang tidak sungguh-sungguh berakar pada relasi pribadinya dengan Kristus. Ia bangga pada perbuatan besar Yesus tetapi tidak punya bisnis dengan Kristus (Yesus yang bangkit).

Memang, mukjizat membuat orang banyak berdecak kagum dan heran, tetapi decak kagum dan heran itu gak otomatis membuat orang melihat kemuliaan Allah dan masuk ke dalamnya. Ini analog dengan kisah Blondin sang pemain akrobat yang mengundang penonton untuk ikut berakrobat bersamanya. Banyak orang kagum dan percaya pada kemampuan Blondin, tetapi tidak banyak yang menerjunkan diri dalam kepercayaannya itu.

Pada banyak kesempatan, iman memang menuntut keberanian orang untuk masuk ke kedalaman dirinya dan bukannya sibuk dengan apa yang dikatakan orang lain mengenai Yesus, Gereja, atau agama.

Di Youtube banyak beredar aneka kesaksian mengenai orang yang pindah dari agama Kristen ke Islam atau sebaliknya. Komentar-komentar keras terhadapnya menunjukkan bahwa banyak orang masih tinggal dalam level iman yang sangat dangkal: orang mencari peneguhan dari kisah spektakular, mukjizat, penyembuhan, dan sejenisnya. Kesaksian-kesaksian ‘pertobatan’ itu memang bisa jadi secara tulus dilontarkan untuk meneguhkan orang lain, tetapi juga bisa muncul sebagai suatu bentuk fanatisme agama tertentu.

Peneguhan orang kristiani datang dari Kristus sendiri: sejauh mana ia berelasi secara pribadi dengan Kristus. Maka benarlah ungkapan Petrus ketika Yesus bertanya,”Kamu gak ikutan pergi?” Lah, mau pergi ke mana lagi, wong di sini ada Guru yang bisa menuntunku masuk dalam hati untuk berjumpa dengan Allah sendiri? Intimitas orang dengan Allah yang mewahyukan Diri di kedalaman hatinya adalah harta yang tak bisa ditemukan di tempat lain.


SABTU PASKA III A

Kis 9,31-42
Setelah Saulus bertobat, jemaat Kristen berada dalam keadaan damai dan jumlahnya bertambah besar. Petrus menyembuhkan Eneas dan membangkitkan Tabitha/Dorkas.
Yoh 6,60-69
Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Dia. Maka kata Yesus kepada mereka,”Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Jawab Simon Petrus kepada-Nya,”Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s