Njawil Kristus

Seandainya traffic light itu warnanya merah dan hijau saja dan diletakkan dalam hati orang, apa kiranya lampu merahnya? Ketakutan! Lampu hijaunya? Trust, faith. Ketakutan memblokade orang untuk move on. Kepercayaan iman membuka jalan orang. Ketakutan berbanding terbalik dengan iman kepercayaan: semakin orang takut, semakin tipis imannya, dan semakin besar iman kepercayaan orang, semakin merosotlah taji ketakutannya.

Dari manakah muncul ketakutan? Dari kesadaran akan batas kemampuan seseorang yang dikombinasi dengan kendablegannya untuk mengandalkan kekuatannya sendiri. Sedangkan kepercayaan iman datang dari pengetahuan bahwa Allah adalah Bapa bagi semua dan bisa diandalkan oleh semua. Pada ujung kepercayaan terletaklah iman (bdk. kisah Blondin yang bisa dijadikan analogi untuk memahami perbedaan antara kepercayaan dan iman) dan jika orang sampai di situ, ketakutan tak pernah bisa mengalahkannya dan ia pun tidak menoleh ke belakang seturut pesan malaikat (yang dilanggar oleh istri Lot, yang akhirnya jadi tiang garam).

Hari ini Gereja Katolik memperingati juga para martir kota Roma yang dianiaya secara sadis pada masa Kaisar Nero. Mereka yang menjadi martir ini sampai pada ujung kepercayaan dan memilih untuk beriman kepada Kristus yang wafat di salib dan bangkit. Tentu ada teman mereka yang sampai pada ujung kepercayaan tetapi memilih untuk menghindari konsekuensi iman akan wafat dan kebangkitan Kristus. Mereka ini seperti para murid yang membangunkan Yesus yang tidur saat terjadi angin ribut di danau. Problemnya bukan angin ribut (di luar sana), melainkan rasa takut (di dalam sini).

Begitulah murid pemula Kristus, belum mampu mengelola rasa takut. Mereka untung sih, sewaktu panik, Yesus ada bersama mereka. Bagi murid zaman sekarang, manajemen rasa takut itu lebih sulit karena tak begitu saja bisa njawil (colek, senggol) Kristus yang tidur. Njawil Kristus itu sekarang sudah jadi bagian dari iman karena yang dijawil itu secara fisik tidak available. Padahal, semakin ia susah njawil Kristus, semakin takutlah ia. Gimana dong?

Tuhan, aku mohon rahmat keberanian untuk menceburkan hidupku dalam proyek keselamatan-Mu, bukan proyek-proyek kesenanganku.


HARI SELASA BIASA XIII B/1
30 Juni 2015

Kej 19,15-29
Mat 8,23-27

Posting Tahun Lalu: Dormant God

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s