Berminat Jadi Kirik?

Kalau menonton film berbau-bau Katolik di bioskop dengan subtitle bahasa Indonesia, kadang dapat kita tengarai bahwa penerjemah tidak mengerti seluk beluk perbedaan pastor dan pendeta, kurang akrab telinganya dengan panggilan ‘romo’, ‘pater’, ‘padre’ dan lebih mantap menerjemahkan ‘father’ dengan kata ‘ayah’ atau ‘bapak’. Tapi begitulah: sebodo’ amat terjemahan tepat atau tidak, yang penting makin banyak tiket terjual ya makin baik.

Tapi tak perlu jauh-jauh ke bioskop, juga di kepala orang yang datang ke gereja hari ini pun, mesti ada saja yang begitu mendengar kata gembala, njuk asosiasi yang muncul adalah pendeta atau pastor. Syukur kalau ada yang mendengar kata gembala dan sungguh-sungguh mencoba mengertinya secara objektif tanpa bias tradisi Katolik. Itu pun bisa jadi juga meleset: gembala yang baik ialah dia yang meninggalkan 99 domba untuk mencari 1 domba yang tersesat! Ini gambaran gembala pada Injil Lukas (15), gambaran yang juga diperagakan oleh Paus Fransiskus dengan menggendong anak domba pada pundaknya. Ini gambaran yang mengagumkan.

Akan tetapi, teks Yohanes hari ini menyodorkan karakter gembala yang berbeda. Yohanes menyinggung soal ‘gembala yang autentik’, yang beneran. Ini adalah sosok gembala yang kuat, menjadi pelindung domba-dombanya. Ia membuat pagar dan menjaga supaya domba bisa masuk ke dalam dan serigala tak dibiarkannya masuk ke dalam. Ini adalah sosok gembala yang memberi kehidupan bagi domba-dombanya. Hidup macam apa? Ya hidup kekal, bukan hidup biologis: takkan ada serigala yang merebut domba dari gembala macam ini. Domba-domba safe; ya tetep mati juga akhirnya, tapi safe.

Bagaimana domba-domba itu bisa ada dalam kondisi aman? Ada beberapa karakter yang bisa dilihat dari kata kerja yang dipakai penulis Yohanes: (1) mendengarkan, (2) mengenal, dan (3) mengikut[i]. Siapa yang mendengarkan? Domba-dombanya. Mereka mendengarkan suara gembala. Mereka juga mengenali suara gembalanya, tetapi teks Yohanes mengganti subjeknya: gembala mengenali domba-dombanya. Ini berarti relasi pribadi timbal balik antara gembala dan dombanya. Yang terakhir, domba-domba ini mengikuti gembala mereka. Dinamika itulah yang membawa hidup kekal bagi domba-domba.

Kalau begitu, pastor alias gembala yang baik dan autentik yang dimaksud Yohanes tentu saja adalah Kristus sendiri, sama sekali bukan pastor yang dipercaya jadi vikep, ketua komisi liturgi, kardinal, atau bahkan paus sekalipun! Bisa jadi gembala ini dibantu kirik-kirik (anak-anak anjing) dan bapak simboknya supaya domba-domba tetap dalam pagar yang sudah dibuat oleh sang gembala. Nah, kalau minggu ini dijadikan sebagai minggu panggilan, barangkali ya panggilan untuk menjadi kirik-kirik tadi. Maka ada baiknya juga mendoakan kirik-kirik itu supaya setia dalam panggilan mereka.

Sementara yang tidak jadi kirik, ada baiknya juga masuk dalam dinamika yang disodorkan Yohanes: mendengarkan Sang Gembala (mungkin lewat kirik-Nya) demi memperdalam pengenalan akan Sang Gembala itu dan mengikuti-Nya. Ini membuat hidup jadi safe, tanpa ketakutan nan lebay karena Sang Gembala itu lebih kuat dari serigala manapun.

Ya Tuhan, mohon rahmat kesetiaan untuk mendengarkan Engkau, mengenal-Mu, dan mengikuti-Mu. Amin.


HARI MINGGU PASKA IV C/2
17 April 2016

Kis 13,14.43-52
Why 7,9.14b-17
Yoh 10,27-30

Posting Minggu Paska IV B/1 2015: Anjing Cakep atau Enak?
Posting Minggu Paska IV A/2 2014: Umat Menggembalakan Imam?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s