Hati Tanpa Pintu

Kata salah seorang peraih nobel sastra, Herman Hesse, tak ada hal yang lebih sulit daripada menuntun orang pada kebahagiaannya sendiri. Kenapa ya kira-kira? Kalau menilik bacaan pertama, sepertinya karena tendensi eksklusif orang; itulah yang justru memasukkan orang dalam paradoks: mau makan sendiri kebenaran, akhirnya malah jadi bukan kebenaran, karena gak berlaku bagi orang lain. Petrus didebat orang Yahudi-Kristiani dan teman-temannya di Yudea yang mendengar berita bahwa orang-orang tak bersunat alias kafir juga menerima Sabda Allah.

Petrus menyodorkan batinnya: apa yang dinyatakan halal oleh Allah, janganlah kamu nyatakan haram. Tapi apa mau dikata, pengalaman batin Petrus ini tak begitu saja diterima. Mungkin setengah matilah Petrus menjelaskan kepada bangsanya bahwa orang non-Yahudi pun menerima Sabda Allah betapapun kultur mereka berbeda dari yang diyakini kelompok Yahudi-Kristiani itu. Orang non-Yahudi tak mengenal tradisi sunat. Aneh juga kan kalau hanya karena gak sunat njuk Allah emoh, gak mau, menolak? Atau Allah macam ini butuh sesaji seperti krecek kulit? Hiiiih, jijay!

Akan tetapi, memang itulah yang hidup di kepala sebagian jemaat awal Yahudi-Kristiani: Allah itu identik dengan kultur tertentu, Dia gak terbuka pada kultur lain. Nah, siapa sebetulnya yang lekat pada kultur tertentu? Ya orang-orangnya! Dari dulu sampai sekarang orang-orang macam inilah yang bikin problem: yang hati dan budinya tertutup, gada jendelanya, ventilasi pun tidak, pintunya absen. Ketertutupan hati dan budi ini bukan hanya bisa membingungkan pikirannya sendiri, melainkan juga melemparkan orang lain yang sesungguhnya malah punya iman sejati. Ketertutupan mendiskreditkan orang lain. Ini yang dibuat oleh sebagian jemaat Yahudi-Kristiani terhadap Petrus. Mereka menyerang Petrus karena ia menerima undangan makan di rumah orang kafir.

Bacaan Injil hari ini adalah bagian awal dari bacaan kemarin. Kemarin teksnya menyinggung soal gembala sejati, gembala yang benar. Teks hari ini menyinggung soal pintu. Jadi, sebelum mendefinisikan gembala yang baik dan gembala sejati, terlebih dulu Yesus menyatakan dirinya sebagai pintu, yang memungkinkan suatu transisi, yang memungkinkan domba-dombanya keluar dari kandang dan mendapati hamparan padang rumput kehidupan. Pintu itu ada dalam hati setiap orang, tetapi kalau orangnya sendiri tak menilik ke dalam, ia tak mendapati pintu itu terbuka dan semua-muanya dihidupinya dalam kepengapan ruang tertutup.

Seorang anak kecil yang dilatih untuk menilik ke dalam, barangkali akan menemukan sendiri bahwa kebahagiaannya tidak terletak pada hal yang ‘menyenangkan’ dirinya sendiri, tetapi pada disposisi dan tindakannya untuk mau membagikan apa yang menyenangkannya. Mungkin orang perlu berlatih askese: senang es grim dan bahagia saat melihat orang lain juga bisa berpartisipasi dalam kegembiraan itu, dan tidak malah membuat paten bahwa es grim itu hanya untukku seorang.

Berarti, korupsi berjamaah atau komunitas prostitusi online dan offline itu juga menjalankan prinsip yang sama ya, Romo? Tidak. Metodenya sama: berbagi. Prinsipnya beda banget: pintu dalam hati yang disinggung di sini tak memisahkan keindahan, kebaikan, keadilan, dan kebenaran. Tak heran, memang susah mengajak orang sampai pada kebahagiaannya sendiri: orang tak mau sampai pada pintu yang menghamparkan keindahan dan kebenaran.

Ya Tuhan, bantulah kami supaya sungguh menemukan pintu sejati hidup kami. Amin.


SENIN PASKA IV C/2
18 April 2016

Kis 11,1-18
Yoh 10,1-10

Posting Tahun 2015: Dengar Suara Bos Besar!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s