Bertindak Heroik

Bagi orang beriman, bukti bukanlah yang utama; sementara bagi orang tak beriman, bukti tiada berguna. Saya kira keyakinan itu juga dipegang Yesus yang diminta oleh orang-orang Yahudi untuk menyatakan secara tegas apakah ia Mesias atau bukan. Jelas gak ada gunanya penegasan wong aneka sepak terjangnya tak cocok untuk isi kepala mereka yang nyinyir itu! Tak mengherankan, juga kegiatan pewartaan murid-muridnya diserang dan orang-orang Yahudi non-Kristiani ini menganiaya dan memaksa mereka keluar dari Yerusalem pasca pembunuhan Stefanus. [Ya malah bagus toh, mereka jadi bisa mewartakan kabar gembira di luar Yerusalem]

Yang menarik perhatian saya hari ini adalah teks Yohanes: aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganku. Bapaku, yang memberikan mereka kepadaku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan-Nya.

Pada kenyataannya, kata-kata yang dilekatkan pada mulut Yesus itu tampak gak cocok dengan realitas hidup manusia. Imajinasi saya melayang pada para orang tua yang, dalam parameter penilaian saya, nggenah alias genep bin normal: mereka yang memberikan nyawa bagi anak-anaknya, memberikan hidup kekal. Ini bukan eksklusif untuk seorang ibu yang mati karena komplikasi penyakitnya setelah melahirkan anak. Bisa jadi itu adalah tindakan heroik yang jarang terjadi, tetapi tindakan heroik juga tak eksklusif soal hebohnya risiko tindakan. Ada tindakan-tindakan biasa nan sepele yang dirajut sedikit demi sedikit dari hari ke hari.

Bayangkanlah setiap tindakan sepele itu sebagai setetes air mata yang masuk ke dalam gelas. Tetesan itu bisa berasal dari kepedihan jerih payah ibu, ayah, kakek, nenek, dan sebagainya. Setelah ribuan tetesan air mata nan bening memenuhi gelas, bisa jadi air itu ditenggak habis hanya dalam hitungan detik oleh orang lain dan orang lain itu bisa jadi korupsi, narkoba, rokok, geng motor, free sex, santet, dan sebagainya. Apa yang sudah dibangun oleh orang tua yang nggenah tadi ujung-ujungnya jadi ora nggenah: hidup kekal yang diberikan orang tua dirampas dari tangan mereka!

Iya sih, kelihatannya begitu. Akan tetapi, apakah tindakan heroik sekian lama itu jadi hilang, lenyap, hancur hanya karena seorang anak terjerumus dalam lembah UGM… eh… lembah kekelaman? Tidak! Tindakan heroik orang-orang nan tulus itu menelusup ke dalam hati dan tetap tinggal di sana. Perkara bahwa yang bersemayam dalam hati itu tak kunjung terkuak, itu lain soalnya. Poinnya, seturut prinsip dasar hidup, yang penting bukanlah apa yang kita tinggalkan untuk anak-anak kita, melainkan apa yang kita tinggalkan dalam diri anak-anak kita [Kita? Emang lu punya anak?]. Itu takkan terampas bahkan oleh setan paling laknat sekalipun. Yang dirampas oleh setan hanyalah hasil akhir, dan tentang hasil akhir itu haknya Allah untuk menilai. Biarkan Dia menjadi Allah.

Marilah berdoa untuk para pendidik, orang tua, yang di tengah kesulitan berhadapan dengan pergeseran kultur ini masih punya energi untuk menaburkan benih Sabda Allah kepada anak-anak mereka. Semoga mereka senantiasa berpengharapan melulu kepada Allah sendiri di tengah-tengah kesulitan membangun karakter anak didik mereka. Amin, amin, amin.


SELASA PASKA IV
19 April 2016

Kis 11,19-26
Yoh 10,22-30

Posting Tahun 2015: Kristen atau Kriminal
Posting Tahun 2014: ID Card – ID Body

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s