What You Leave In Others…

Bukan apa yang kamu tinggalkan untuk anak-anakmu, melainkan apa yang kamu tinggalkan dalam diri anak-anakmu, itulah yang jauh lebih penting.

warisan iman

Barangkali masih lebih banyak orang tua yang berpikir bahwa target hidup mereka sebagai orang tua adalah memberikan aneka materi yang menunjang hidup anak-anaknya: tabungan, rumah tempat tinggal, perusahaan, ruko, villa, emas batangan, uang dinar dan sejenisnya. Hal-hal seperti itu yang tidak dipunyai Petrus dan Yohanes ketika mereka dimintai sedekah oleh pengemis tetap di Bait Allah. Akan tetapi, mereka memiliki sesuatu yang lebih besar daripada hal itu semua: mukjizat penyembuhan yang berasal dari iman kepada Allah yang membangkitkan Putera-Nya. Tidak banyak orang yang punya karunia seperti itu, dan kalaupun ada, lebih sedikit lagi yang menggunakan karunia itu semata demi kebaikan sesamanya.

Dua murid yang kembali ke Yerusalem juga tidak memiliki bukti apa-apa mengenai kebangkitan, tetapi mereka membagikan pengalaman perjumpaan mereka dengan Kristus. Pengalaman perjumpaan itulah yang meyakinkan mereka bahwa Kristus memang sudah bangkit. Pengalaman itu tidak bisa mereka tularkan atau berikan kepada para murid lainnya. Mereka hanya bisa menceritakan bagaimana mereka mengalami keyakinan akan kebangkitan Kristus itu. Jadi, poinnya bukan bagaimana pengalaman mereka dieksplorasi, melainkan bagaimana pengalaman mereka membuahkan nilai-nilai iman kepercayaan yang berguna bagi orang lain.

Mengupayakan aneka jaminan sosial bagi anak-anak barangkali memang perlu sampai pada taraf tertentu, tetapi kiranya membangun karakter anak supaya bisa mandiri mengupayakan jaminan sosial itu jauh lebih baik lagi. Memenuhi keinginan anak mungkin dalam batas tertentu juga baik, tetapi jauh lebih baik lagi jika orang tua bisa menanamkan nilai dalam diri anak untuk mengetahui kebutuhan sewajarnya. Tentu saja, ini tidak hanya berlaku pada relasi orang tua dan anak, tetapi juga relasi guru-murid, atau bahkan relasi pemimpin politik dan masyarakat.

Strive not to be a success, but rather to be of value… konon begitulah kata Albert Einstein. Nilai-nilai itulah (kejujuran vs kebohongan, ketekunan vs gampang nyerah, kerja keras vs jalan pintas, kemandirian vs egoisme, kesederhanaan vs kerakusan, dll) yang lebih tahan lama berdentang daripada aneka logam mulia. Semoga semakin banyak orang tua yang lebih berfokus meninggalkan cinta dalam diri anaknya daripada aneka barang material untuk mereka. Semoga semakin banyak pemimpin yang lebih menghidupi karakter autentiknya yang baik daripada aneka tebar pesona pencitraan.


RABU DALAM OKTAF PASKA

Kis 3,1-10
Petrus berkata,” Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” Lalu ia memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu. Ia melonjak berdiri lalu berjalan kian ke mari dan mengikuti mereka ke dalam Bait Allah, berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah.

Luk 24,13-35
Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu….Kata mereka itu: “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.” Lalu kedua orang itupun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s