Asal [Bukan] Ahok…

Seorang pengamat politik melontarkan gagasan bahwa saat ini yang bisa mengalahkan elektabilitas Ahok hanyalah dirinya sendiri dan pendukung fanatiknya. Jika sampai terjadi kultus individu, elektabilitas itu akan buyar bukan oleh pihak luar, melainkan oleh gelojohnya sendiri untuk kekuasaan. Seperti sikap lawan-lawannya: yang penting dibahas bukan pokok persoalannya, melainkan orangnya. Indikator ke arah sana akan tecermin dalam slogan: asal bukan Ahok atau pokoknya Ahok, tanpa penjelasan adekuat tentang rasionalitasnya.

Dalam disiplin kerohanian, mekanisme seperti itu bersinggungan dengan askese: orang perlu menarik diri, berefleksi sejenak, supaya tak jadi korban gelojoh diri sendiri maupun orang lain. Tanpa disiplin semacam ini, orang bisa jatuh ke kultus individu yang dengan sendirinya akan memicu kebencian sesama individu lainnya. Inilah juga yang menimpa Yesus dari Nazareth. Bukan dia sih yang punya gelojoh untuk jadi pusat kultus individu, melainkan pengikut-pengikut fanatiknya!

Jemaat Gereja awal lama kelamaan sadar bahwa era Yesus dari Nazareth itu sudah berlalu. Refleksi Yohanes hari ini pun dengan gamblang menyatakan Yesus sebagai utusan Allah. Yang melihat dia, melihat Allah; dan yang percaya kepadanya, percaya kepada Allah. Ini sama sekali tidak mau mengatakan bahwa Yesus adalah Allah! Tidak! Yesus adalah utusan Allah. Tak usah susah-susah mikirnya. Bayangkan Anda didatangi petugas debt collector. Memang indera Anda melihat sosok petugas ini, tetapi pada saat itu Anda berurusan dengan perusahaannya, dengan bosnya. Petugas itu jelas bukan perusahaan, bukan juga bosnya. Akan tetapi, apa yang Anda buat terhadap petugas itu, Anda lakukan terhadap perusahaannya karena dia adalah bagian dari perusahaan tempat Anda pinjam modal usaha.

Loh, tapi Romo, kan beberapa hari lalu ada bacaan tentang pertobatan Saulus yang mendapat penampakan dan Yesus mengidentifikasikan dirinya sebagai sosok yang dianiaya Saulus? Berarti era Yesus belum berlalu dong! Kalau Anda masih beranggapan begitu, bisa jadi Anda luput membaca posting soal kebutuhan Yesus akan toilet! Yesus yang menjumpai Saulus bukan sosok Yesus yang bangkit dari mati seperti dialami Lazarus, anak janda Sarfat, dan orang-orang lainnya yang mati suri. Ini adalah Yesus dari ‘dunia ketiga’, yaitu dunia dalam persekutuan dengan Allah dan Yesus dari ‘dunia ketiga’ ini mengidentikkan dirinya dengan Gereja, yaitu mereka yang percaya pada Sabda Allah dan merealisasikannya.

Maka, poin pentingnya bukan lagi kelompok, apalagi individu yang bisa dikultuskan, melainkan realisasi Sabda Allah melalui kelompok atau individu itu. Itulah yang semestinya ditimbang-timbang: apakah yang dibuat seseorang itu klop dengan missio Dei, kehendak Allah bagi suatu bonum commune. Itulah nuansa bacaan pertama: fokusnya pada penyebaran kabar gembira dan peran Roh Kudus lebih daripada keunggulan individu atau kelompok tertentu.

Fokus macam ini bisa kacau oleh orang fanatik yang menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan kelompok atau orang lain, untuk mendapat kekuasaan, memenangkan kepentingan diri, untuk menyelamatkan aset keluarga yang bocor lewat Panama papers, dan sebagainya. Apa ini hanya terjadi di ranah politik? Tidak! Dalam ranah agama juga begitu: kentara sekali dalam sekte Kristen yang berebut pengikut dengan himbauan untuk ikut ‘Gereja kami’. Emangnya Gereja itu punya mbahmu po?

Tuhan, bantulah kami supaya fokus pada cinta-Mu dan merealisasikannya dalam setiap keputusan kami. Amin.


RABU PASKA IV
20 April 2016

Kis 12,24-13,5a
Yoh 12,44-50

Posting Tahun Lalu: Mau Jadi Eksekutor?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s