Kartini Kok Pasif

Saya bereaksi keras (dalam hati doang sih) mendengar uraian bahwa orang akan merasa bahagia jika didengarkan, dipahami, dicintai, pokoknya dimanusiakan deh.
– Loh, apa salahnya ya? Bukankah memang orang senang kalau ia didengarkan, dipahami, dicintai, dimanusiakan?
Ya memang.
– Trus, kenapa Romo protes? Romo kok senangnya cari gara-gara sih, provokasi? Kayaknya susah amat terima masukan orang lain?
Hahaha, jauh amat kesimpulannya.

Akhir teks Yohanes hari ini mengulang-ulang kata menerima: siapa yang menerima orang yang kuutus, ia menerima aku, dan siapa yang menerima aku, ia menerima Dia yang mengutus aku. Nah, sekarang silakan buat apropriasi [opo kuwi mboh] terhadap pernyataan itu dengan hidup sehari-hari. Kalau Anda menerima hadiah dari si dia yang Anda sukai, Anda pasti senang, berapapun nilai nominal hadiah itu karena Anda menerima sesuatu, perhatian, cinta, dan sebagainya. Apa yang Anda lakukan untuk menerima hadiah itu? Adakah syarat dari pihak Anda untuk menerima hadiah itu? Tak ada! Anda cukup membuka tangan. Tak ada yang perlu Anda lakukan terhadap (si pemberi) hadiah! Terima saja. Anda pasif.

Akan tetapi, kalau memakai pedoman yang disodorkan Yohanes hari ini, Anda tak bisa pasif. Menerima orang yang diutus Allah, menerima Sabda Allah, menerima Cinta, tak bisa dibuat dengan hanya bertopang dagu dan menanti pemberian orang di atas rantang atau topi di depan Anda. Menerima utusan Allah itu berarti menindakkan hal yang asalnya dari Roh yang sama dengan Roh yang menggerakkan utusan Allah itu. Dalam teks ini, Yesus baru saja selesai membasuh kaki para muridnya. Tentu ia tidak mengharapkan para muridnya jadi PRT di Timur Tengah, tetapi ia memberi teladan supaya para murid menerima Allah dengan tindakan cinta mereka, bukan dengan omongan atau tulisan di blog begini, hahaha.

Dengan demikian, jelaslah: didengarkan, dimanusiakan, dipahami, dicintai, dipuji, disanjung, itu memang menyenangkan dan mungkin membahagiakan. Tetapi, kebahagiaan yang dibangun dari konsep macam ini bisa menjerumuskan orang pada cinta bersyarat; lebih kejam lagi, cinta bersyarat ini tanpa disadari akan menghempaskan orang untuk memosisikan (rasa saya lebih tepat memposisikan karena ‘posisi’ adalah kata serapan bahasa asing; tetapi apa mau dikata, KBBI 5 menuliskan ‘memercayakan’ dan ‘memosisikan’. Konon karena posisi sudah tidak lagi diperlakukan sebagai kata serapan… ha ya uwis monggolah) dirinya sebagai objek nan pasif. Orang yang didengarkan mungkin bahagia, tetapi lebih bahagia lagi kiranya kalau dialah yang mendengarkan. Orang yang dipahami tentu saja merasa happy, tapi kegembiraannya itu akan full justru pada saat ia memahami orang lain.

So, kalau menilik sosok Kartini, hal yang mengesankan darinya ialah bahwa ia menempatkan dirinya sebagai subjek, bukan objek situasi. Celakanya, posisi ini bisa saja diteladani oleh perempuan lain, tetapi kebablasen sehingga malah akhirnya mengobjekkan yang bukan perempuan. Bukan mentang-mentang aktif lantas ‘menerima Sabda Allah’ berarti menginjak-injak martabat orang lain. Menjadi subjek sekarang ini berarti menjadi pribadi dalam relasi dengan subjek lain. Maka pantaslah diperhatikan doa St. Fransiskus Asisi: semoga aku lebih ingin memahami daripada dipahami, mencintai daripada dicintai, mendengarkan daripada didengarkan.

Kenapa? Ini bukan aksi politis: karena dengan mencintai kelak aku dicintai! Kebahagiaan sudah built-in dalam tindak mencinta, mendengarkan, memahami, memanusiakan, entah yang mencinta itu dicintai atau tidak.

Ibu Kartini, doakanlah kami supaya jadi subjek yang tidak mengobjekkan sesama kami. Amin.


KAMIS PASKA IV
21 April 2016

Kis 13,13-25
Yoh 13,16-20

Posting Tahun 2015: Simbol Cinta
Posting Tahun 2014: Menolak Lupa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s