Rotinya Rotinya….

Tiga hari topiknya roti: roti surga, roti hidup. Mungkin butuh tiga hari supaya ngeh dengan roti. Mari andaikan Vardy seorang anak membawa roti berjalan-jalan di boulevard bersama ibunya. Roti itu dimakannya sepanjang jalan sampai akhirnya Vardy melihat seorang anak berpakaian kumal duduk di pinggir jalan memegang perutnya sambil menatap roti yang dipegang Vardy. Vardy berhenti dan membagi rotinya ke anak yang kelaparan ini. Manakah yang disebut roti hidup, roti surga itu? Kalau Anda jawab roti surga adalah roti yang dibagikan Vardy, gagallah saya mewartakan kabar gembira: mea culpa, mea maxima culpa!

Yesus tak hanya berhadapan dengan orang banyak, tetapi juga dengan para tokoh orang Yahudi yang berkomentar,”Bukankah dia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kita kenal? Bagaimana dia dapat berkata: Aku telah turun dari surga?” (Yoh 6,42) Mereka jengkel karena klaim Yesus sebagai roti surga. Pikir mereka: mereka bisa membedakan mana hal-hal dari Allah dan mana yang bukan. Jebulnya, mereka cuma tahu bahwa Yesus itu anak Maria-Yosef, tukang kayu. Hal-hal dari Allah itu apa, mereka plenggang-plenggong.

Wacana yang disodorkan teks hari ini ada dalam setting waktu mendekati Paska bangsa Yahudi. Peristiwa Yesus memberi makan kepada banyak orang menjelang pesta Paska Yahudi itu jadi sangat simbolik. Paska Yahudi mengingatkan orang pada pembebasan bangsa Israel dari penindasan Mesir, dan wacana roti surga paralel dengan peristiwa turunnya ‘manna’ dari langit. Akan tetapi, wacana Yesus ini toh juga tak ditangkap kebanyakan orang saat itu, persis karena mereka tak membaca yang tersirat (read between the lines).

Sewaktu Yesus omong soal makanan yang bisa binasa (Yoh 6,27), dia mengingatkan orang pada ‘manna’ yang dalam Kitab Keluaran bab 16 diceritakan menjadi busuk dan berbelatung (sudah diingatkan Musa supaya orang mengambil seperlunya, tidak untuk disimpan, tapi ya masih saja ada yang ngambil lebih untuk esok harinya). Sewaktu Yesus mengklaim diri sebagai roti hidup, orang Yahudi bersungut-sungut, persis seperti saat bangsa Israel meragukan kehadiran Allah dalam perjalanan keluar dari Mesir (Kel 16,2; 17,3). Karena kekurangan makan, orang Israel mulai ragu-ragu dan menggerutu melawan Musa dan Allah. Nah, sekarang terulang lagi, mereka ragu akan kehadiran Allah dalam diri Yesus dari Nazaret dan mulai menggerutu (Yoh 6,41-42).

Roti yang diberikan Vardy bukanlah roti hidup dari surga. Itu roti dari pabrik bakery (tentu kalau dirunut terus sampai juga pada Allah, tetapi mohon baca lagi posting Allah di Kalijodo supaya ngeh bahwa Allah bukan penanggung jawab langsung atas roti Vardy itu). Roti hidup itu ialah Roh Allah dalam diri Vardy yang menggerakkannya untuk membagikan roti. Karena Yesus dipenuhi Roh Kudus (bdk. Luk 4,1-13), masuk akal saja dia berkata atas nama atau dalam kuasa Roh Kudus itu: akulah roti hidup.

Jadi, roti hidup itu pasti bukan Yesus anak Maria-Yosefnya, atau Yesus tukang kayunya. Dalam level pengertian itu, orang bisa ekstrem menolak atau sebaliknya ngotot untuk melekat pada Yesus historis. Roti hidup itu ialah Allah sendiri yang mewahyukan Diri lewat sosok Yesus historis. Berhenti pada sosok historis nan inderawi bisa jadi nightmare

Ya Allah, jadikanlah kami roti hidup seperti Yesus yang membagikan dirinya. Amin.


KAMIS PASKA III
14 April 2016

Kis 8,26-40
Yoh 6,44-51

Posting 2015: Siapa Yang Nembak Duluan?
Posting 2014: Revolusi Mental, Revolusi Kultural

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s