Roti Hidup vs Hati Korup

Tiap orang punya kelaparan mendalam, selain mungkin rasa lapar pada saat membaca posting ini: lapar makna, lapar hidup yang bersinar, lapar kebahagiaan. Akan tetapi, cara orang memuaskan kelaparan jenis ini biasanya mentok pada dimensi fisik dan psikis. Coba bayangkan seorang anak yang dibujuk oleh pamannya sendiri untuk membawa tas berisi bom dengan iming-iming kalau ia mati nanti di surga bisa makan roti yang diidam-idamkannya selama ini!

Cara yang disodorkan pamannya ini tidak memenuhi kebutuhan pemuasan kelaparan fisik. Akan tetapi, rupanya juga tidak memenuhi kebutuhan untuk memuaskan kelaparan jenis kedua, kelaparan spiritual. Tak ada bukti, dan jika anak ini diyakinkan oleh pamannya bahwa iman itu tak menuntut pembuktian dan ia membiarkan dirinya hancur berkeping-keping bersama tas berisi bomnya, ia telah memenuhi kebutuhan psikisnya untuk diterima oleh pamannya.

Bisa jadi orang menjalankan hidup beragamanya paling jauh untuk memenuhi kebutuhan psikologis, untuk sekadar gak kelihatan mentah dan inderawi, tetapi tak menyentuh ranah batiniah. Silakan meninjau ulang penghayatan hidup beragama, dan teliti kembali reaksi dalam diri ketika tak memenuhi kewajiban agama karena (1) malas dan (2) alasan objektif yang bermutu. Termasuk dalam kategori malas ialah ketidakmauan orang untuk menata waktu seturut skala prioritas yang wajar. Sedangkan alasan objektif yang bermutu tentu tidak menunjuk pada rekayasa untuk mencari-cari kegiatan mulia pada saat orang semestinya menjalankan kewajiban agamanya.

Jika karena malas orang tak merasakan apa-apa saat mengabaikan kewajiban agamanya, bisa jadi hatinya korup. Jika karena alasan objektif orang tak dapat memenuhi kewajiban agamanya dan merasa bersalah karena itu, bisa jadi hatinya kaku lebay (scrupulous). Dua keadaan ini mengindikasikan bahwa orang menjalankan kewajiban agamanya sebagai mekanisme untuk memenuhi kebutuhan psikologis, bukan kebutuhan spiritual yang autentik. Bisa jadi kebanyakan orang berhenti sampai di sini dan tak pernah sungguh-sungguh mengenyam pemenuhan kebutuhan akan roti hidup.

Teks Yohanes hari ini menyebut Yesus sebagai roti hidup setelah kemarin dinarasikan orang banyak meminta roti dari surga yang lebih utuh daripada ‘manna’ pada zaman Musa. Ini mengingatkan pembaca pada dialog Yesus dengan perempuan dari Samaria yang meminta air hidup (Yoh 4,15). Perempuan Samaria, sebagai orang yang tak mengenal Allah, tentu saja mengira air hidup itu adalah materi bernama kimia H2O. Jangankan orang ateis, orang-orang yang mengklaim diri ber-Tuhan pun mengira roti hidup yang diomongkan Yesus itu adalah roti macam sandwich gudeg kemarin.

Yesus memberi keterangan dialah roti hidup itu. Barangsiapa datang kepadanya gak bakalan lapar lagi dan siapa yang percaya kepadanya juga gak akan haus lagi. Makan roti hidup itu sama halnya dengan percaya kepada Yesus. Tapi apa daya, roti hidup ini tak compatible dengan hati yang korup: memahaminya sebagai doktrin dan agama tertentu. Padahal, ‘percaya kepada Yesus’ tak identik dengan agama manapun. Ini adalah soal percaya kepada Allah yang mewahyukan Diri ke dunia dan benar-benar tinggal dalam hati manusia. Tentu Yesus gak ingin cuma orang Kristen yang percaya kepada Allah macam itu. Ia ingin semua orang percaya, apapun agamanya.

Tuhan, semoga kami bertekun mengolah hati yang percaya kepada-Mu. Amin.


RABU PASKA III
13 April 2016

Kis 8,1b-8
Yoh 6,35-40

Posting 2015: Broken, Bright Life
Posting 2014: Awas Kekuatan Gelap!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s