Roti Surga, Selai Neraka

Saya punya senior yang dulu hobinya makan sandwich untuk menu sarapan. Keren, kan? Dua potong roti dan di tengahnya gudeg Jogja! Memang sih, tak ada standar sandwich isinya apa karena sandwich sendiri bukanlah substansi makanan, melainkan cara penyajian makanan. Jadi, mau diisi gudeg kek, atau oseng-oseng mercon nek, setangkup roti itu toh bisa dinamai sandwich.

Teks Injil hari ini bicara mengenai substansi: roti dari surga. Nah, substansi ini susah dimengerti orang Yahudi yang sudah punya pengalaman nenek moyang mengenai roti yang turun dari langit pada zaman Musa dulu. Itulah yang dalam benak mereka adalah roti yang diberikan Musa dari surga. Yesus mengingatkan bahwa roti itu hanyalah ransum untuk tubuh biologis, yang bisa memberi sensasi kepuasan psikis juga, tetapi bukan jaminan bagi jiwa. Seharusnya ini gampang dimengerti: orang lapar mudah terpancing emosinya dan orang yang kenyang takkan begitu antusias dengan gudeg atau sandwich. Begitulah makanan fisik: butuh dipenuhi supaya mental tak terganggu.

Tentu saja Yesus tak hendak menyepelekan ‘manna’, makanan fisik dan kesehatan mental. Akan tetapi, Yesus menunjukkan poin penting yang disepelekan orang: efektivitas makanan bagi kualitas hidup orang. Roti dari surga versi Musa mempertahankan hidup biologis, menjamin kesehatan mental, tetapi bukan roh atau jiwanya. Orang bisa kenyang dengan aneka kuliner, tetapi jaminan kesehatan rohaninya tak berasal dari kuliner itu sendiri. Itu seperti bangsa Israel yang mendapat roti dari langit tetapi tak juga berkembang dalam iman: roh dan jiwa tak mendapat keuntungan dari mukjizat roti surga ala Musa itu. Konon, banyak dari mereka yang akhirnya toh mati di padang gurun dan bahkan Musa dan Harun sendiri cuma bisa melihat tanah yang dijanjikan Allah, tak bisa sampai ke tanah itu karena kelemahan iman mereka.

Yesus mendeklarasikan diri sebagai roti hidup, roti dari surga, bukan hanya bagi bangsa Israel, melainkan juga bagi seluruh dunia. Di sinilah juga letak perbedaan Musa dan Yesus. ‘Manna’ Musa hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis dan psikologis bangsa Israel, tetapi roti dari surga ini untuk memberi kehidupan yang utuh bagi setiap orang. Cuma satu syaratnya: orang tak bisa mengolesinya dengan selai dari neraka. Kayak apa itu selai neraka? Seperti diungkap oleh Stefanus dalam bacaan pertama: menentang Roh Kudus. Seperti apa itu menentang Roh Kudus? Kayak mendewakan kebiasaan.

Roti surga hanya mungkin dihidupi seolah-olah setiap saat dialami untuk pertama kalinya. Dengan kata lain: awareness. Orang mesti dari momen ke momen eling, awas bahwa Allah senantiasa memanggilnya untuk sesuatu. Orang bekerja untuk mendapatkan uang, mencari nafkah, memenuhi kebutuhan pokok, tetapi Allah mengundang manusia supaya pemenuhan kebutuhan pokok itu jadi sarana untuk sesuatu yang lain, yang meningkatkan kualitas hidup bersama. Kebiasaan kerap kali menurunkan kepekaan orang untuk menangkap bisikan Roh.

Ya Tuhan, semoga kami semakin peka mendengar panggilan-Mu. Amin.


SELASA PASKA III
12 April 2016

Kis 7,51-8,1a
Yoh 6,30-35

Posting 2015: Tanda Tangan Allah
Posting 2014: Weak But Strong