Plesetan Iman

Sudah ada posting berjudul Plesetan Allah yang menyajikan permainan kata ‘bayit’. Posting kali ini tidak menyajikan permainan kata, melainkan permainan tanda yang lebih kompleks lagi. Sebagai introduksi mungkin baiklah kita nikmati video berikut ini:

Maafkan semesta ini jika video itu tak bisa dibuka pada gawai yang Anda miliki. Pesan video itu sendiri jelas: orang lebih antusias pada tanda sensasional daripada keterbukaan terhadap kemungkinan makna mendalam. Lebih spesifik lagi: orang lebih bergelora terhadap tanda shortcut daripada tanda yang berbelit. Ini tentu manusiawi, begitu insani. Konon Ibnu Abbas, sepupu Nabi Muhammad, bilang kurang lebih begini (saya belum paham bahasa Arab, tapi kalau diterjemahkan kira-kira),”Man is called insan because he receives the alliance of God and then forgets.” Orang eling pada saat susah dan lupa pada saat suka. Karena itu, tanda yang merangsang sensasi sengsara (susah, njelimet, rempong, ribet, sakit, duka, kebosanan, kekerasan hidup, dan sebagainya) cenderung dihindari.

Dengan kata lain, disposisi orang untuk mencari Allah berbanding terbalik dengan tingkat kenyamanan seseorang. Ini masuk akal, kalau orang sudah merasa nyaman dengan dirinya sendiri, apa perlunya ia mencari Allah?

Hari ini Yesus memberi pesan kepada orang banyak yang mengikutinya: Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal (Yoh 6,27 ITB). Kenyataannya mereka melihat Yesus sendiri memberi makan banyak orang dan kenyataan ini menjadi tanda sensasional bagi mereka. Ada tanda sensasional lain yang disinggung Yesus, yang memenuhi kriteria makanan tanpa expiry date, tetapi ini tak menarik orang: salib.

Itulah ironisnya hidup insani: menangkap tanda dan berhenti pada tanda itu, tak sampai pada pemberian tandanya sendiri. Orang silap pada makanan dan tak melihat tindak pemberian makanannya sendiri. Orang ada dalam bahaya berhenti pada Tuhan yang bisa lenyap dalam hal-hal yang memang fana. Itu mengapa bahkan orang Kristiani pun gagal paham sehingga secara naif mempertuhankan Yesus tanpa mengerti sama sekali makna kebangkitan. Mereka kira Yesus bangkit seperti orang-orang lain yang mengalami altered state consciousness, mati suri, dan sejenisnya. Ini adalah tanda yang mengundang decak kagum, tetapi bisa menyesatkan orang: bukannya semakin mampu beriman, melainkan semakin tergila-gila pada mukjizat.

Orang yang mengerti kebangkitan Kristus, paham bahwa kebangkitan-Nya bukan dari dari dunia orang mati kembali ke dunia insani, melainkan ke dunia ilahi (silakan cermati kembali tiga dunia dalam posting Kristus Butuh Toilet Jugakah?). Kebangkitan macam ini tak perlu dinantikan sampai orang mati dulu, tetapi bisa juga dimohon dalam status hidup manusiawi sekarang ini dan di sini.

Ya Tuhan, kami mohon supaya senantiasa mampu membaca hidup kami dalam terang iman kepada-Mu. Amin.


SENIN PASKA III
11 April 2016

Kis 6,8-15
Yoh 6,22-29

Posting 2015: Perbuatan Tanpa Iman Is Dead
Posting 2014: Spirit’s Work, Wider and Deeper

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s