Komitmen Nol, Cinta Zero

“Petruk,” panggil Semar. “Opo?” sahut Petruk.
“Apakah kamu mencintai aku?” tanya Semar. “Ho’oh,” jawab Petruk.
“Kamu bantu ya orang-orang supaya fokus dan setia.” “He’eh…”
Belum juga roti dan ikan ditelan, Semar memanggil lagi.
“Truk, Truk.” “Iyo,” Petruk mengorek slilitnya (makan ikan aja slilitan).
“Betul kamu mencintai aku?” tanya Semar lagi. “Iya, kan tadi dah kujawab!”
“Jangan bosan ya bantu orang-orang supaya makin eling Gusti.” “Iyooo…”
Sekarang Petruk berhenti mengunyah dan menatap Semar kalau-kalau memanggil lagi. Eh, bener.
“Petruk,” panggil semar. “Iya, apa si’ ah?!”
“Kamu serius mencintai aku?” “Kamu itu budheg ya, Sem?!” teriak Petruk dalam hatinya, tetapi lalu sedih hatinya karena Semar bertanya untuk ketiga kalinya “Apakah kamu mencintai aku?” Dan ia berkata,”Sem, kamu tahu semua. Kamu tahu bahwa aku mencintaimu.”
“Makanya, tolong jaga orang-orang supaya tak tersesat ya.”

Dialog macam itu sepertinya gak romantis, dan memang dialog antara Yesus dan Petrus dalam teks Injil hari ini bukan romantika orang yang mabuk asrama (pasti dianggap salah ketik!). Orang sekarang mungkin baru sekali ditanya “Apakah kamu sayang aku?” langsung manggut-manggut “Ya ya ya” atau, sebaliknya, lari terbirit-birit. Maklum, tolok ukurnya like-dislike dan sudah umum diketahui bahwa cinta sejati mengatasi tolok ukur like-dislike.

Dari penuturan Yesus tampaknya disodorkan cinta bersyarat: kalo kamu cinta aku, ya gembalakan domba-dombaku dong! Pun kalau ini dimengerti sebagai cinta bersyarat, kita dapat mengerti bahwa syarat itu tidak menempatkan diri Yesus sebagai penerima cinta. Secara objektif bisa diilustrasikan, kalau A mencintai B, dia mesti mencintai C. Lah, kok isa? Mencintai istri kok malah mencintai temannya istri, apa ya gak malah bikin poligami?! Nyatanya tidak tuh. Wacana cinta Yesus-Petrus ini menginsinuasikan bahwa cinta Petrus kepada Yesus (yang sudah tak akan lagi hidup dengan cara lama) memuat tugas bagi Petrus untuk menjaga sesama supaya bisa ikut setia kepada Allah yang maharahim.

Cinta adalah sekaligus rahmat dan tugas, bukan dalam arti beban, melainkan sebagai konsekuensi logis dari rahmat itu sendiri. Ini hanya mungkin ternyatakan jika memang ada komitmen. Tanpa komitmen, jangan omong soal cinta. Omonglah soal lain: nafsu, like-dislike, kecemburuan, korupsi, hegemoni, eksploitasi, pengobjekan, pelecehan, dan semacamnya. Wah, mosok njuk kita mesti berkomitmen dengan semua orang, apa ya gak malah bubrah? Komitmen dengan satu orang aja rawan bencana, gimana dengan semua orang?!

Orang tak bisa mereduksi komitmen sebagai ikatan perkawinan belaka. Ada komitmen sebagai anggota keluarga, ada komitmen sebagai pimpinan perusahaan, ada komitmen sebagai warga yang nasionalis, ada komitmen yang lain-lainnya lagi. Komitmen itu cantolannya cuma satu, yang dibahasakan oleh agama Kristiani sebagai cinta kepada Kristus itu. Cinta dari dan kepada Allah itu memuat tugas untuk mencintai siapa saja, sesuai dengan kapasitasnya masing-masing: sebagai teman, saudara, istri, rekan kerja, dan sebagainya. Mungkin itulah mengapa orang yang tak kenal cinta mempermainkan komitmen, dan sebaliknya, orang yang tak punya komitmen mempermainkan cinta.

Ya Allah, semoga cinta-Mu menguatkan kami untuk semakin jadi pribadi yang berkomitmen. Amin.


HARI MINGGU PASKA III C/2
10 April 2016

Kis 5,27b-32.40b-41
Why 5,11-14
Yoh 21,1-19

Posting Minggu Paska III B/1 2015: Kristus Butuh Toilet Jugakah?
Posting Minggu Paska III A/2 2014: Happiness, Inventing The Meaning

2 replies

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s