Tenang, Ada Gue

Kisah Yesus berjalan di atas air versi Yohanes ini sama sekali tidak dimaksudkan sebagai undangan bagi pengikutnya supaya belajar ‘elevasi’ di atas air. Memang sih ada sebagian orang yang karena teknik meditasinya, atau karena kesuciannya dalam doa kemudian tubuhnya melayang. Tapi itu bukan tujuan Yohanes menceritakan kisah ini kepada pembaca. Jika ditilik situasi ketika Yohanes menuliskan Injil ini, lebih masuk akal bahwa narasi ini dibuat untuk mengingatkan pembaca pada bagaimana bangsa Israel keluar dari situasi sulit, menyeberangi Laut Merah, yang kemudian mematikan bagi tentara Mesir. Laut, dalam tulisan Yohanes juga merepresentasikan kekuatan kematian, kekacauan. Dan memang itulah yang dialami para murid dalam perahu di atas danau yang sedang ribut (simbol jemaat Yohanes yang sedang mengalami masa sulit juga).

Menariknya, di tengah situasi darurat kacau itu, Yesus datang kepada mereka dan seolah-olah seperti kebanyakan dari kita para jagoan berkata,”Tenang, ada gue!” Akan tetapi, rupanya bukan nuansa itu yang hendak disodorkan Yohanes, dan mungkin juga bukan mental macam itu yang dikembangkan Guru dari Nazareth. Para murid sendiri melihat Yesus tetapi entah kenapa mereka malah ketakutan. Karena itulah Yesus berkata,”Ini aku (bukan yang lainnya), jangan takut!”

Kata-kata itu mengindikasikan bahwa menurut Yesus, para murid belum ngeh sungguh apa yang mereka lihat. Artinya, mereka melihat sesuatu yang lain, mata mereka jadi blawur (mungkin memang baper juga bikin blawur alias blur). Bisa jadi mereka berpikir ini adalah sosok yang mengacaukan angin dan danau. Sebaliknya, yang mereka lihat sebenarnya adalah sosok Yesus yang mengalahkan kematian, yang berdiri di atas kekuatan chaos di bumi ini. Jika orang secara jelas melihat sosok seperti ini dalam kekacauan hidup, niscaya ketakutan takkan mencengkam dan fokus pun takkan buyar. Ini kelihatan dari aktivitas jemaat perdana sendiri yang di tengah pertentangan dengan orang Yahudi lainnya mulai memikirkan cara lain dalam melakukan pelayanan dan pewartaan. Mereka mulai memikirkan pembagian tugas supaya fokus pada Sabda Allah tidak luntur.

Keribetan, kesusahan, kesulitan, beratnya hidup, kacaunya skenario, penderitaan dan sejenisnya memang bisa mengacaukan fokus orang untuk melihat Allah yang melampaui kematian. Orang bisa tenggelam dalam kultur kematian: depresi, merasa diri ada di akhir hidup, kiamat, tanpa harapan, merasa jerih payahnya sudah yang paling berat dari yang bisa ditanggung manusia, merasa diri paling menderita, dan sejenisnya. Orang macam ini mesti melihat sosok Yesus yang di salib: penderitaan dan kesusahanmu yang mana yang lebih dari sakit dan deritanya di kayu salib itu ha?!

Ya Tuhan, semoga kami tanpa takut dapat memandang wajah-Mu dalam dominasi kultur kematian di sekeliling kami. Amin.


HARI SABTU PASKA II
9 April 2016

Kis 6,1-7
Yoh 6,16-21

Posting Tahun Lalu: Kadang Niat Baik Cukup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s